PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Reformasi
telah membawa tuntutan yang besar kepada perubahan sistem dan kehidupan politik
di indonesia, masyarakat sendiri masih mempunyai kapasitas yang relatif rendah
untuk bisa melayani segala perubahan tersebut.
Bagi
suatu negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi maupun yang sedang
membangun proses demokratisasi, partai politik menjadi sarana demokrasi yang
bisa berperan sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintah.[1]
Perpolitikan
juga pada saat ini telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia yang semakin kian
terbuka dan transparan. Setelah orde baru tumbang, kini Indonesia secara dramatis telah
melangkah ke tahapan demokrasi, perubahan-perubahan penting telah banyak
terjadi seperti dari segi pranata, legal, dan institusional. Kita telah melaksanakan pemilu legislatif dan
pemilihan presiden secara langsung, Suatu ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat
dibutuhkan dapat dilembagakan secara berkala dan regular.
|
1
|
Dalam
pemilihan kepala daerah seperti gubernur dan bupati/walikota sejak Indonesia
merdeka hanya dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat, maka
menurut ketentuan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 harus dilakukan pemilihan
langsung.[2]
Selain
itu, perilaku politik seseorang itu bisa berbeda-beda. Beberapa hal yang telah
dijelaskan diatas merupakan beberapa bentuk dari perilaku politik individu.
Ikut serta dan bergabung dalam partai politik juga merupakan bantuk dari
perilaku politik. Hal ini dikarenakan bahwa partai politik merupakan sarana
bagi warga negara untuk turut berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara
dan menjalankan kebijakan-kebijakan untuk negara. Perilaku pemilih dalam Pilbup
itu sangat penting, dikarenakan apabila pelaksanaan Pilbup itu berjalan sukses,
maka tentu saja perilaku pemilih itu sukses juga.
Perilaku
politik dan partisipasi politik pemilih merupakan suatu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Perilaku politik pemilih merupakan aspek penting dalam
menunjang keberhasilan pelaksanaan suatu pemilihan umum. Di dalam penelitian
ini yang ingin ditekankan ialah bagaimana perilaku politik kaum muda dalam
pemilihan bupati.
Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada) telah jalankan di Kabupaten Sinjai, salah satunya
adalah pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati yang di laksanakan pemilihan
pada bulan Mei 2013, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) ini diharapkan
dapat membawa masyarakat Kabupaten Sinjai ke arah yang lebih demokratis. Pesta
demokrasi ini sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Sinjai,
baik dari desa terpencil maupun kota.
Pada
penelitian ini, penulis memfokuskan perilaku politik kaum muda dalam pemilihan
bupati (Pilbup) tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Selain
itu, peneliti juga menelusuri hal-hal yang mendasari dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pilihan politik kaum muda tersebut. Kaum muda adalah sebagai warga
negara berhak untuk ikut dan berpartisipasi dalam setiap pemilihan umum,
khususnya pemilihan bupati di kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Kaum
muda adalah salah satu generasi penerus masa depan. Tingkat pemikiran dan
ideologi mereka lebih kritis dibandingkan dengan kaum tua. Hal ini sangat
terlihat di setiap pemilihan umum, sasaran utama para kandidat adalah kaum
muda.
Sebagai
bagian dari komponen bangsa, kaum muda tidak dapat melepaskan diri dan
menghindar dari politik. Oleh karena hakikat manusia,
termasuk kaum muda adalah zoon politicon
atau mahluk politik. Keberadaan dan kiprah manusia termasuk kaum muda merupakan
bagian dari produk politik dan terlibat langsung maupun tidak langsung, nyata
maupun tidak nyata dalam kehidupan politik.
Peran
politik kaum muda dapat dilihat dari: pertama, partisipasi politik kaum muda
sebagai bagian dari sistem politik yakni dalam suprastruktur politik dan
infrastruktur politik. Dalam suprastruktur politik, kaum muda merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dalam sistem pemerintahan. Sebagai warga negara setiap
kaum muda harus memahami tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara,
termasuk melakukan bela negara. Dalam infrastruktur politik, kaum muda dapat
berkiprah dalam kegiatan partai politik, pada kelompok kepentingan, kelompok
penekan maupun kelompok anomalis. Inilah arena politik yang dapat digunakan
oleh kaum muda dalam berpartisipasi secara politik.
Fenomena
dan keadaan politik jelang diadakannya Pilbup ini, yang sangat nampak adalah
“adu strategi” yang di lakukan oleh masing-masing kandidat. Setiap kandidat
memiliki strategi khusus dan tersendiri untuk meraih simpati dan dukungan dari
para pemilih khususnya kaum-kaum muda.
Dalam
suatu kehidupan bernegara dan juga bermasyarakat, partisipasi kaum muda sangat
dibutuhkan sebagai wujud dari kebersamaan dan keikutsertaan dalam proses
politik tersebut. Partisipasi politik pada dasarnya adalah aspek penting dalam
negara demokrasi dan juga menjadi penanda adanya modernisasi politik.
Dari
uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut
dan hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Perilaku Politik Kaum Muda dalam Pilbup Tahun
2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.”
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka pokok permasalahan yang perlu mendapat gambarkan
yang jelas yaitu: “bagaimana perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun 2013
di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai ?”
C. Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
Pada dasarnya
penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan memperoleh informasi yang akurat
sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, adapun tujuan penelitian sebagai
berikut:
1.
Untuk mengetahui
perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun 2013 di kecamatan Sinjai Utara Kabupaten
Sinjai.
Adapun manfaat penelitian sebagai
berikut :
1.
Akedemis
a.
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pengembangan
teori ilmu politik, khususnya perilaku politik.
b.
Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi pedoman untuk peneliti selanjutnya.
2.
Praktis
a.
Penelitian ini
diharapkan dapat memperjelas tentang perilaku politik dalam pembangunan
perpolitikan di Indonesia.
b.
Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi pedoman para aktor politik tentang perilaku politik
yang terjadi di Indonesia khususnya Kabupaten Sinjai.
D. Telaah
Pustaka
Telaah pustaka
memuat hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang
dilakukan, dengan maksud untuk menghindari duplikasi. Di samping itu, untuk
menunjukkan bahwa topik yang diteliti belum pernah diteliti oleh peneliti lain
dalam konteks yang sama serta menjelaskan posisi penelitian yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Dengan
kata lain, tinjauan pustaka bertujuan untuk meletakkan posisi penelitian
diantara penelitian-penelitian yang telah ada.[3]
Studi tentang
perilaku politik sudah banyak diterbitkan dan ditemukan, namun sampai saat ini
belum ada yang membahas tetang perilaku politik dalam Pilbup di Kabupaten
Sinjai. Selain itu, lokasi dan tempat penelitian berbeda dengan skripsi-skripsi
yang telah ada. Adapun beberapa buku referensi dan karya ilmiah yang berkaitan
dengan perilaku politik adalah:
Fera Hariani
Nasution[4],
dari skripsinya yang berjudul “Perilaku Pemilih
Pada Pemilihan Gabernur Sumatera Utara Secara Langsung di Kabupaten
Labuhan Batu (Studi Kasus: di Kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhan Batu”,
dari Universitas Sumatera Utara. Dalam skripsinya mengatakan dalam Pilkada
secara langsung di Kabupaten Labuhan Batu khususnya Bakaran Batu berlangsung
dengan sportiv, masyarakat kelurahan Bakaran Batu tidak terpengaruh dengan isu
Suku, Agama, Ras, dan Politik Uang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Fera
Hariani Nasution menunjukan bahwa dalam Pilkada secara langsung di Kabupaten
Labuhan Batu Kelurahan Bakaran Batu, terdapat hubungan yang cukup kuat antara
orientasi kandidat dan orentasi isu dengan perilaku pemilih.
Muhammad Sholeh
Marsuki,[5]
dalam skripsinya berjudul Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin dalam
Perspektif Khittah Muhammadiyah, dari
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Muhammad Sholeh Marsuki
mengatakan bahwa Perilaku politik praktis yang telah dilakukan oleh Din
Syamsuddin adalah merupakan peran induvidu, yang sangat terkait erat dengan
kelembagaan yang dipimpinnya yaitu Muhammadiyah. Muhammadiah secara jelas
menolak perilaku politik praktis yang dilakukan oleh kadernya yang membawa nama
Muhammadiyah kedalam ranah politik praktis. Kittah
Muhammadiayah yang dirumuskan dalam berbagai format sejak tahun 1956-2002
merupakan formulasi dari posisi dan peran Muhammadiyah yang sejak awal
kelahirannya hingga perkembangannya merupakan organisasi yang bergerak dibidang
dakwah dan bukan bergerak dalam wilayah politik praktis.
Cice Verawati R. L.[6]
Dalam skripsinya yang berjudul “Perilaku Pemilih Kaum muda Pada Pemilu
Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara” dari Universitas Hasanuddin
Makassar, mengatakan perilaku politik kaum muda dalam
hal ini pilihan politik kaum muda, kerangka konseptual dimasukkan teori pilihan
rasional serta pendekatan sosiologis dan psikologis dalam melihat faktor-faktor
yang mempengaruhi pilihan politik kaum muda. Selain itu, hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada pemilihan legislatif tahun 2009 di Kabupaten Kolaka
Utara, kondisi tiap kaum muda tidaklah sama. Terdapat kaum muda yang
menggunakan hak pilihnya berdasarkan informasi dan rasionalitas. Selain itu
terdapat pula kaum muda yang menggunakan hak pilihnya tapi memiliki informasi
yang sangat minim terhadap pemilihan ini. Pilihan politik kaum muda dipengaruhi
oleh berbagai faktor sosial, proses sosialisasi dan kepentingan juga
mempengaruhi pilihan politik kaum muda.
Dari beragam
tinjauan pustaka diatas masih banyak pustaka yang belum disebut disini,
terutama pustaka yang membahas tentang perilaku politik secara umum. Namun yang
berkaitan dengan pokok permasalahan yang akan difokuskan dalam penelitian ini,
kiranya sudah memadai, sungguh demikian pustaka yang disebut diatas jelas belum
ada yang khusus membicarakan perilaku politik kaum muda dalam Pilbup. Maka
peneliti akan membahas tentang perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun
2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Hal ini karena pada zaman
modernisasi ini, tingkat pemikiran kaum muda mulai kritis dalam melakukan
sesuatu, apalagi dalam pengambilan keputusan politik. Kaum muda sekarang telah
memiliki pemahaman yang tinggi tentang pemilihan umum khususnya kaum muda di
kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Sehingga penulis
yakin bahwa skripsi yang akan dibahas ini belum ada duplikat dengan buku atau
karya ilmiah lainnya. Namun tinjauan pustaka diatas penulis akan menjadikan
bahan perbandingan dalam skripsi ini.
E. Kerangka Teori
Bagian ini merupakan unsur yang paling penting dalam penelitian,
karena pada bagian ini peneliti mencoba menjelaskan fenomena yang sedang
diamati dengan mengunakan teori-teori yang relevan dengan penelitiannya.
Menurut Masri Singarimbun dan Sofian Effendi dalam buku Metode
Penelitian Sosial mengatakan, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, kontrak,
definisi dan preposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial sistematis
dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.[7]
1.
Perilaku Politik Pemilih
Perilaku
politik dan pilihan merupakan adalah sebuah konstruksi sosial, sehingga untuk
memahaminya diperlukan dukungan konsep dari berbagai berbagai disiplin ilmu.
Dalam menganalisis hal tersebut, maka banyak variabel yang perlu diperhatikan
dalam konteks sosial yang sangat dinamis. Mulai dari variabel ekonomi,
psikologi sosial, konsep sosiologis geopolitik dan sebagainya. Berbagai
disiplin ilmu atau berbagai variabel digunakan secara menyeluruh dan integral.
Pendekatan perilaku sendiri muncul dan
berkembang dalam masa sesudah Perang Dunia II.
[8]
Ramlan
Surbakti dalam bukunya memahami ilmu politik mengatakan bahwa perilaku politik
itu merupakan suatu kegiatan ataupun aktivitas yang berkenaan ataupun
berhubungan langsung dengan proses politik, baik itu dalam pembuatan keputusan
politik sampai kepada pelaksanaan aktivitas politik secara periode.[9]
Selain itu, perilaku
politik adalah tindakan atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam
kegiatan politik, mengemukakan bahwa perilaku politik adalah sebagai kegiatan
yang berkenaan dengan proses pembuatan dan keputusan politik.
Perilaku
politik meliputi tanggapan internal seperti persepsi, sikap, orientasi
dan keyakinan serta tindakan-tindakan nyata seperti pemberian suara, protes,
lobi dan sebagainya. Persepsi politik berkaitan dengan gambaran suatu obyek
tertentu, baik mengenai keterangan, informasi dari sesuatu hal, maupun gambaran
tentang obyek atau situasi politik dengan cara tertentu. Sedangkan sikap
politik adalah merupakan hubungan atau pertalian diantara keyakinan yang telah
melekat dan mendorong seseorang untuk menanggapi suatu obyek atau situasi
politik dengan cara tertentu. Sikap dan perilaku masyarakat dipengaruhi
oleh proses dan peristiwa historis masa lalu dan merupakan kesinambungan yang
dinamis. Peristiwa atau kejadian politik secara umum maupun yang menimpa pada
individu atau kelompok masyarakat, baik yang menyangkut sistem politik atau
ketidak stabilan politik, janji politik dari calon pemimpin atau calon wakil
rakyat yang tidak pernah ditepati dapat mempengaruhi perilaku politik
masyarakat.
Kaum
muda dalam suatu masyarakat akan berinteraksi dan berada dalam konteks
lingkungan yang mencakup orientasi-orientasinya. Orientasi itu didasarkan pada
keinginan, karakter dan tujuan-tujuannya. inilah yang kemudian membentuk
pilihan-pilihan politik yang akan terpola dalam waktu yang lama, ataupun secara
temporer dapat berlaku tergantung pada sejauh mana sesorang maupun lembaga
politik mampu menerjemahkan menerima dan menerjemahkan kepentingan-kepentingan
mereka.
Pada
umumnya, dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam
sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan
dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu[10].
Dari bermacam-macam kegiatan dalam sistem politik, terdapat tujuan-tujuan yang
ingin dicapai, terdapat berbagai keinginan, cara dan juga pilihan- pilihan yang
dihadapkan dalam suatu sistem politik. Sehingga dapat dikatakan bahwa, pilihan
politik merupakan faktor-faktor yang menentukan alternatif keputusan yang
berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan, baik yang
dilakukan pemerintah maupun masyarakat.[11]
Perilaku
politik seseorang dapat dilatarbelakangi oleh banyak hal, setiap orang
memiliiki pertimbangan dan alasan untuk menjatuhkan sebuah pilihan politik
terhadap objek-objek politik yang mereka hadapi. Mulai dari unsur kepentingan
yang dimungkingkan dapat terakomodasi, pengaruh sosial politik yang ada di
sekitar termasuk peristiwa-peristiwa dan media massa, dan juga orientasi
primordialisme dan sebagainya.
Selanjutnya
perilaku politik juga dibagi menjadi dua, yakni perilaku politik
lembaga-lembaga dan para pejabat pemerintah, dan perilaku politik warga negara
biasa (baik induvidu maupun kelompok). Yang pertama bertanggungjawab membuat,
melaksanakan, dan menegakakan keputusan politik, sedangkan yang kedua tidak
berwenang seperti yang pertama tetapi berhak mempengaruhi pihak pertama dalam
pelaksanaan fungsinya karena apa yang dilakukan pihak pertama menyangkut
kehidupan pihak kedua.[12]
Setiap
individu kaum muda maupun kaum tua memiliki hak untuk ikut serta tanpa kecuali.
Demokrasi sebagai proses yang berkesinambungan meniscayakan persamaan dan
kesetaraan, kesempatan yang terbuka bagi semua orang. Dalam konteks negara
kebangsaan, sistem masa lalu yang sangat sentralistik telah digeser ke dalam
sistem yang lebih demokratis. Runtuhnya resim orde baru pada tahun 1998,
ditandai dengan masuknya era reformasi, masa ini adalah masa pembaharuan
disemua dimensi kehidupan. Tidak terkecuali dalam sistem politik yang dulu
sangat sentralistik dan terpusat, kemudian digeser ke sistem federalis.
Pemilih
diartikan sebagai pihak atau individu yang menjadi tujuan utama para kontestan
untuk mempengaruhi mereka dan meyakinkan mereka agar mendukung dan memilih
kontestan politik yang bersangkutan. Pemilih dalam hal ini merupakan konstituen
mapun masyarakat pada umumnya. Lomasky di dalam analisis Ramlan Surbakti
menyebutkan bahwa keputusan untuk memilih yang terjadi selama pemilihan umum
merupakan perilaku yang ekspansif ataupun perilaku yang terjadi hanya pada
saat-saat tertentu saja.[13]
Bisa kita tarik kesimpulan bahwa perilaku pemilih yang demikian rupanya hampir
sama dengan perilaku dukungan suporter. Inilah yang menjadi permasalahan ketika
banyaknya pemilih yang cenderung perilaku politiknya termanifestasi pada satu poin tertentu, bisa itu karena adanya
suatu keterkaitan si pemilih dengan si calon atau kandidat.
Perilaku
politik kaum muda dan juga pilihan-pilihan politiknya, dipengaruhi oleh
lingkungan sosial dan lingkungan politik
yang merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi yang panjang, ada berbagai
transfer nilai-nilai dalam kelompok dan lingkungan sosial ini. Lingkungan
sosial pemilih kaum muda juga menyediakan berbagai informasi-informasi yang
berkaitan dengan bangunan kognisinya. Hal inilah yang nantinya akan berpengaruh
terhadap perilaku politik kaum muda dan pilihan-pilihan politiknya.
Perilaku
pemilih dapat dianalisis dengan tiga pendekatan yaitu:[14]
a.
Pendekatan Sosiologis.
Pendekatan
ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan
sosial mempunyai pengaruh-pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan
perilaku politik seseorang. Karakteristik sosial seperti pekerjaan, pendidikan
sampai karakteristik sosiologis seperti agama, wilayah, jenis kelamin, umur dan
sebagainya merupakan bagian-bagian dan faktor-faktor penting dalam menentukan
pilihan politik. Singkat kata pengelompokan sosial seperti umur, jenis kelamin,
agama dan semacamnya dianggap mempunyai peranan yang cukup menentukan dalam
membentuk pengelompokan seseorang. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat vital
dalam memahami perilaku politik seseorang.
Pendekatan
sosiologis melihat bahwa dalam kelompok-kelompok sosial, terdapat kognisi
sosial tertentu yang pada akhirnya bermuara pada perilaku dan pilihan tertentu.
Dalam kelompok-kelompok sosial, berlangsung proses sosialisasi. Lingkungan
sosial memberikan bentuk-bentuk sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai dan
norma dalam masyarakat, serta memberikan pengalaman hidup.
b.
Pendekatan Psikologis.
Pendekatan
ini menggunakan konsep psikologis terutama konsep sosialisasi dan sikap untuk
menjelaskan perilaku pemilih. Variabel-variabel itu tidak dapat dihubungan
dengan perilaku pemilih kalau ada proses sosialisasinya. Oleh karena itu
menurut pendekatan ini sosialisasilah sebenarnya yang menetukan perilaku
politik seseorang. Oleh karena itu pilihan seseorang anak yang telah melalui
tahap sosialisasi politik tidak jarang sama dengan pilihan politik orang
tuanya. Pendekatan psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis sebagai
kajian utama yaitu ikatan emosional pada suatu partai politik, orientasi
terhadap isu-isu dan orientasi kepada kandidat.
Dalam
pendekatan ini, sikaplah yang paling menentukan dan hal itu berawal dari
informasi-informasi yang diterima seseorang. Menurut Asfar, sikap tidaklah
terjadi secara begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang, yang dimulai
dari kanak-kanak saat seseorang pertama kali mendapat pengaruh politik dari
orang tua atau kerabat dekat.
c.
Pendekatan Rasional.
Dalam
konteks pendekatan rasional, pemilih akan memilih jika ia merasa ada timbal
balik yang akan diterimanya. Ketika pemilih merasa tidak mendapatkan faedah
dengan memilih kandidat yang sedang bertanding, ia tidak akan mengikuti dan
melakukan pilihan pada proses Pemilu. Hal ini juga sejalan dengan prinsip
ekonomi dan hitung ekonomi. Pendekatan ini juga mengandaikan bahwa calon bupati
dan wakil bupati akan melakukan berbagai promosi dan kampanye yang bertujuan
untuk menarik simpati dan keinginian masyarakat untuk memilih dirinya pada
Pilbup.
Dari
uraian diatas, dapat di katakan bahwa terdapat suatu nilai yang berlaku secara
menyeluruh, tapi terdapat pula nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat
tertentu, dan itu biasanya tidak berlaku bagi kelompok masyarakat lain. Seperti
halnya pendekatan-pendekatan yang diuraikan sebelumnya tentang perilaku
memilih, itu bersumber dari penelitian yang diadakan di negara-negara maju,
pemilu yang berulang-ulang dan praktek demokrasi yang relatif bersih,
memungkinkan teori itu memiliki validitas tinggi untuk memprediksi perilaku
politik untuk pemilu-pemilu berikutnya.
2.
Teori
Pilihan Rasional (Rational Choice).
Teori
pilihan rasional adalah penjelasan yang mendasar dalam melihat perilaku politik
kaum muda yang mencakup pilihan-pilihan politik dan berbagai hal yang
mempengaruhinya. Sosiologi Perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara
pengaruh seorang aktor terhadap lingkungan terhadap perilaku aktor.[15]
Dalam
penjelasan Ritzer & Goodman, antara perilaku aktor yakni individu dan
lingkungannya, akan terjadi proses yang saling berpengaruh satu sama lain.
Sebagian pemilih mengubah pilihan politiknya dari satu Pemilu ke Pemilu lainnya
dan peristiwa-peristiwa politik tertentu bisa saja mengubah preferensi pilihan
politik seseorang.
Teori
pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor, yang dipandang sebagai
manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud tertentu, artinya aktor
mempunyai tujuan dan tindakanya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu.[16]
Kaum muda adalah aktor atau induvidu yang memiliki tujuan dan maksud, dan
tindakannya tertuju pada tujuan untuk mencapai tersebut. Dalam konteks
pemilihan umum kaum muda sebagai warga negara dan sebagai induvidu dalam
masyarakat tentunya memiliki tujuan dan maksud dalam momen pemilihan umum.
Tindakan-tindakan kaum muda sebagai induvidu merupakan upaya untuk mencapai
hal-hal yang dimaksudkan secara rasional dalam proses pelaksanaan pemilihan
umum.
Teori
pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa saja yang
menjadi sumber pilihan aktor, yang penting disini adalah kenyataan tindakan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan tindakan aktor.[17]
Penjelasan tentang pilihan rasional seperti yang diungkapkan oleh Ritzer dan
Goodman, merupakan penjelasan tentang letak rasionalitas dalam menjatuhkan
pilihan yang pada dasarnya bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Hal ini
juga tidak menitik beratkan pada sumber pilihan tapi didasarkan npada tujuan
yang ingin dicapai.
Kaum muda
sebagai induvidu dalam proses pemilihan bupati memiliki pilihan rasional yang
didasarkan pada upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tidk
menitikberatkan pada sumber-sumberpilihan.lebih lanjut diungkapkan oleh James S
Coleman, dalam teori pilihan rasional dengan gagasan dasarnya bahwa tindakan
perseorangan mengarah kepada suatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan)
ditentukan oleh nilai atau pilihan (presepsi).[18]
James S. Coleman juga menitik beratkan pada tindakan pada tindakan perseorangan
dan juga mengarah pada suatu tujuan tertentu yang mengaitkan nilai dalam hal
ini adalah pilihan dan juga pereferensi. Pilihan yang didasrkan pada preferensi
akan melibatkan berbagai informasi dalam suatu lingkungan sosial.
Friedmen
dan Hechter mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan
rasional; pertama, adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan
tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial, yang
kedua adalah bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat
pilihan rasional.[19]
Informasi yang dimiliki oleh individu akan dikaitkan dengan kualitas dan
kuantitas dari informasi tersebut dan hal ini nantinya akan mempengaruhi
pilihan rasionalnya.
Pilihan
rasional kaum muda juga didasarkan pada informasi yang dia terima dan dijadikan
sebagai preferensi seperti yang di ungkapakan oleh James S.
Coleman sebelumnya. Dalam pemilihan bupati,
kaum muda adalah sebagai individu yang memiliki pilihan yang didasarkan pada
rasionalitas dalam memilih. Rasionalitas dalam menjatuhkan pilihannya didasarkan
pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemilih kaum muda dan dikaitkan
dengan informasi dan preferensi yang dimilikinya.
Selain itu,
dalam fenomena politik yang terjadi di Indonesia saat ini, seperti pemilihan
umum legislatif maupun eksekutif. Ketika seseorang akan memilih kandidat saat
pesta demokrasi berlangsung, ia memiliki pilihan-pilihan tertentu terhadap
seorang pemimpin yang akan ia pilih nanti, pada saat itulah cost-bennefit muncul dalam dirinya. Ia
akan mengetahui resiko serta keuntungan seperti apakah yang kelak ia dapatkan
jika ia memilih kandidat A, atau B, dsb. Jika kandidat A hanya menjanjikan
pemberian sembako gratis dalam kampanyenya, sedangkan kandidat B menjanjikan
pemberian sembako, pelayananan kesehatan gratis, dan memperbaiki infrastuktur
jalan yang ada di daerah si pemilih,
maka dalam hal ini ia akan memikirkan keuntungan mana yang lebih dominan yang
akan ia dapatkan dari kandidat. Tentu saja kandidat B karena banyak memberikan
pelayanan yang baik pada masyarakat.
F. Metode
Penelitian
1.
Jenis
Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dimana penulis mencoba untuk
meneliti atau menganalisa dengan mencoba memberikan gambaran dan penjelasan
mengenai kenyataan empiris yang dijadikan objek penelitian.
2.
Penentuan
Subjek dan Objek Penelitian
Penetuan
subjek penelitian hendaknya mengunakan suatu kriteria tertentu. Peneliti juga
perlu menjelaskan dari mana ia mulai mengumpulkan data, siapa yang menjadi
informan kunci, penjelasan jika peneliti menambah sampel dan bilamana
penambahan sampel dianggap cukup.[20]
Adapun yang akan menjadi informan disini adalah :
1.
Lurah, 6 orang informan
2.
Pemilih
Kaum Muda, 17 orang informan
Objek penelitian adalah
fokus yang akan dicari jawabannya melalui peneliti. Objek peneliti harus
dirumuskan secara tajam dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalah-pahaman
bagi orang lain. [21]
Adapun informan diatas
adalah mereka yang banyak mengetahui dunia perpolitikan yang terjadi di Kabupaten
Sinjai, khususnya Kecamatan Sinjai Utara, agar data yang didapatkan lebih valid atau lebih aktual.
Dalam
penelitian ini, penulis akan menggunakan penelitian kualitatif
yang bersifat deskriptif, dimana penulis mencoba untuk
meneliti atau menganalisa dengan mencoba memberikan gambaran dan penjelasan
mengenai kenyataan empiris yang dijadikan objek penelitian.
3.
Metode
Pengumpulan Data
Penelitian sosial merupakan kegiatan
ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang
bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala sosial, yang bertujuan
untuk mempelajari gejala sosial tersebut, dengan jalan menganalisisnya. Selain
itu, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta sosial tersebut
untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul dalam
gejala yang bersangkutan.[22]
Pada penelitian ini penulis menggunakan
sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer didapat dengan
melakukan teknik pengumpulan data melalui:
a.
Metode Wawancara
Wawancara
mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewancara dengan
informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
wawancara, dimana pewancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang
relatif lama.[23] Selain itu, adalah
tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Merupakan suatu
bentuk komunikasi verbal atau percakapan untuk memperoleh informasi. Dalam
wawancara, penulis secara langsung melakukan wawancara dengan informan yang
dianggap paham dan mengetahui masalah yang akan diteliti atau informan yang
berkenaan dengan tema penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan mendalam
atau pedoman wawancara.
b.
Studi Pustaka
Yang
dimaksud studi pustaka yakni membaca sumber-sumber literatur mengenai tema yang
dikaji tentang perilaku politik, kaum muda dan politik, dan teori-teori sosial
yang berupa buku-buku, majalah, surat kabar dan informasi tertulis lainnya yang
membahas tentang masalah ini, dimana untuk lebih memperkuat data yang dimuat didalam
skripsi ini.
c.
Metode Observasi
Metode
ini adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data
penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.[24]
Dengan tujuan mendapatkan gambaran yang benar tentang suatu gejala sosial atau
peristiwa tertentu yang ada dan terjadi pada suatu lokasi dalam suatu daerah.
Adapun sumber
data sekunder diperoleh melalui teknik pengumpulan data dengan menggunakan:
a.
Metode Dokumenter
Metode
ini adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metode penelitian
sosial. Yang pada intinya metode ini digunakan untuk menelusuri data histori,
dan sosial. Yang sebagian besar fakta data sosial tersimpan dalam bahan yang
berbentuk dokumentasi, seperti buku-buku, literatur, arsip atau dokumen
pemerintah.[25]
b.
Metode Online
Metode
pengumpulan data online adalah tata
cara melakukan penelusuran data melalui media online seperti internet atau media jaringan lainnya yang
menyediakan fasilitas online,
sehingga memungkinkan peneliti dapat memanfaatkan data informasi online yang berupa data maupun informasi
teori, secepat atau semudah mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan secara
akademis.[26]
4.
Metode
Analisis Data
Metode
analisis data yang digunakan adalah diskriptif analisis dari hasil wawancara,
peneliti akan mendeskripsikan dan menganalisis berdasarkan kerangka teori yang
digunakan dalam penelitian ini. Sehingga menjadi suatu catatan lapangan. Semua
data kemudian dianalisis secara kualitatif sehingga apa yang terkandung dibalik
realitas dapat diungkap.
Bagian
ini juga menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan
tertentu dalam rangka penginterpretasian data sesuai dengan susunan sajian data
yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah penelitian yang akhirnya
akan disimpulkan.
GAMBARAN UMUM LOKASI
PENELITIAN
A. Sejarah
Kabupaten Sinjai
Kabupaten Sinjai mempunyai nilai histories tersendiri, dibanding
dengan Kabupaten-Kabupaten yang di Propinsi Sulawesi Selatan. Dulu terdiri dari
beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan yang tergabung dalam federasi
Tellu Limpoe dan Kerajaan – kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Limpoe.
Tellu Limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir
pantai yakni Kerajaan yakni
Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti, serta Pitu Limpoe adalah kerajaan-kerajaan yang
berada di daratan tinggi yakni Kerajaan
Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.
Watak dan karakter masyarakat tercermin dari system pemerintahan demokratis dan berkedaulatan rakyat. Komunikasi
politik di antara kerajaan-kerajaan dibangun melalui landasan tatanan kesopanan Yakni Sipakatau yaitu Saling
menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsep “Sirui
Menre’ Tessirui No’ yakni saling menarik ke atas, pantang saling menarik
kebawah, mallilusipakainge yang bermakna bila khilaf saling
mengingatkan.
Sekalipun dari ketiga kerajaan tersebut tergabung ke dalam
Persekutuan Kerajaan Tellu Limpo’E namun pelaksanana roda pemerintahan tetap
berjalan pada wilayahnya masing-masing tanpa ada pertentangan dan peperangan
yang terjadi diantara mereka.
|
23
|
Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari LAMASSIAJENG Raja Lamatti X untuk memperkokoh
bersatunya antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya "PASIJA
SINGKERUNNA LAMATI BULO-BULO" artinya satukan keyakinan Lamatti
dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau digelar dengan PUANTA
MATINROE RISIJAINA.
Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten
Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya Benteng pada tahun 1557.
Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikan di
Balangnipa yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Sinjai. Disamping itu,
benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe, karena didirikan
secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan yakni Lamatti, Bulo-bulo, dan Tondong lalu dipugar oleh Belanda melalui
perang Manggarabombang.
Tahun 1636 orang
Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang
keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya Belanda unntuk
memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di suilawesi Selatan. Hal
ini mencapai puncaknya dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap
orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan
peran terhadap kerajaan Gowa.Peristiwa ini terjadi tahun 1639.
Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap perpegan teguh pada PERJANJIAN TOPEKKONG.
Tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda VAN
DER CAPELLAN datang dari Batavia untuk membujuk I
CELLA ARUNG Bulo-Bulo
XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengisinkan Belanda Mendirikan Loji
atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolak dengan tegas.
Tahun 1861 berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, takluknya wilayah Tellulimpoe
Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten. Tanggal 24 pebruari 1940, Gubernur Grote Gost
menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi
Celebes, dimana Sinjai bersama-sama beberapa Kabupaten lainnya berstatus
sebagai Onther Afdeling Sinjai
terdiri dari beberapa adat Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong,
Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng.
Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya
ditatah sesuai dengaan kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di
Gojeng.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yakni tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi sebuah Kabupaten
berdasarkan Undang-Undang
RI Nomor 29 Tahun 1959.[27]
B. Letak
Geografis Kabupaten Sinjai
Kabupaten
Sinjai terletak di Jazirah Selatan bagian Timur Propinsi Sulawesi Selatan
dengan Ibu kotanya Sinjai. Berada pada posisi 50 19' 30" sampai
50 36' 47" Lintang Selatan dan 1190 48' 30"
sampai 1200 0' 0" Bujur Timur.[28]
Disebelah
Utara berbatasan dengan Kabupaten Bone, di sebelah Timur dengan Teluk Bone, di
sebelah Selatan dengan Kabupaten Bulukumba, dan sebelah Barat dengan Kabupaten
Gowa.
Wilayah
administratif terbagi atas 9 Kecamatan, 13 kelurahan, dan 67 Desa. Luas wilayahnya berdasarkan data yang ada, seluas 819,96
Km2 (81.996 Ha).[29]
1.
Kecamatan Sinjai Utara,
6 Kelurahan
2.
Kecamatan Sinjai Timur,
1 Kelurahan dan 12 Desa
3.
Kecamatan Sinjai Tengah,
1 Kelurahan dan 10 Desa
4.
Kecamatan Sinjai Barat,
1 Kelurahan dan 8 Desa
5.
Kecamatan Sinjai
Selatan, 1 Kelurahan dan 10 Desa
6.
Kecamatan Sinjai Borong,
1 Kelurahan dan 7 Desa
7.
Kecamatan Bulupoddo, 7
Desa
8.
Kecamatan Tellulimpoe, 1
Kelurahan dan 10 Desa
9.
Kecamatan Pulau
Sembilan, 4 Desa yang merupakan wilayah kepulauan.
Berdasarkan
situasi Geografis, daerah Kabupaten Sinjai beriklim Sub Tropis. Curah hujan
rata-rata 2.772 sampai 4.847 milimeter dengan 120 Deep rain pertahun. Musim Hujan dimulai Februari s/d Juli dan musim
panas mulai Agusutus s/d Oktober serta kelembaban mulai November s/d Januari.
Sinjai berada
pada ketinggian antara 25 sampai 1.000 meter diatas permukaan laut. Luas daerah
8.1996 Ha, dengan 4,62 persen berada pada ketinggian 25 m diatas permukaan
laut, 9,74 persen berada pada ketinggian 100 m diatas permukaan laut, 55,35
persen berada pada ketinggian 100 – 500 m dari permukaan laut, 21,18 persen
berada pada ketinggian 500 – 1000 m dari permukaan laut dan 21,18 persen berada
pada ketinggian diatas 1000 m dari permukaan laut.
Adapun Visi Kabupaten
Sinjai yakni “Sinjai Religius, Cerdas, Sehat dan Sejahtera” mana kala Misinya adalah:
1.
Meningkatkan
kualitas kehidupan beragama.
2.
Meningkatkan
kesempatan memperoleh pendidikan dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.
3.
Meningkatkan pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat.
4.
Mewujudkan
penyelenggaraan Pemerintah Daerah yang sehat melalui tata kelola pemerintahan
yang baik.
5.
Meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat berbasis kerakyatan yang
berwawasan lingkungan.
6.
Meningkatkan
infrastruktur perdesaan dan perkotaan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi
daerah.
C. Gambaran
Singkat Kecamatan Sinjai Utara
Kecamatan
Sinjai Utara adalah salah satu dari 9 Kecamatan yang terdapat di Kabupaten
Sinjai. Jumlah penduduk di Kecamatan Sinjai Utara lebih kurang 44.068 jiwa.
Kecamatan
Sinjai Utara ini terdiri dari 6 kelurahan yaitu :
1.
Kelurahan Alewanuae
2.
Kelurahan Biringere
3.
Kelurahan Lamatti Rilau
4.
Kelurahan Bongki
5.
Kelurahan Balangnipa
6.
Kelurahan lappa
Di Kecamatan Sinjai
Utara terdapat satu kelurahan yang terletak di persisir pantai yaitu Kelurahan
Lappa dimana ketinggian dari permukaan air laut lebih kurang 1 meter, dan luas
3,95 (km2) dengan jarak 3 kilometer (Km) dari Ibu Kota Kecamatan.
Adapun 5 (lima)
Kelurahan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara masing-masing terletak bukan
pinggir pantai dimana lebih kurang 71 meter dari permukaan air laut. Selain itu kelurahan Balang Nipa adalah salah satu
tempat dimana pusat pemerintahan Kabupaten Sinjai, karena letak goegrafisnya yang
mendukung untuk segala sistem pemerintahan dan kantor-kantor istansi.
Untuk lebih
jelasnya lihat tabel berikut:
Tabel
1.1
Letak
dan Klasifikasi Tiap Kelurahan Keadaan Akhir Tahun 2011
|
NO
|
KELURAHAN
|
LETAK
KELURAHAN
|
KLASIFIKASI
KELURAHAN
|
|||
|
PANTAI
|
BUKAN
PANTAI
|
SWA-DAYA
|
SWA-KARYA
|
SWA-SEMBADA
|
||
|
1
|
Alewanuae
|
-
|
√
|
-
|
√
|
-
|
|
2
|
Biringere
|
-
|
√
|
-
|
√
|
-
|
|
3
|
Limatti
Rilau
|
-
|
√
|
-
|
√
|
-
|
|
4
|
Bongki
|
-
|
√
|
-
|
√
|
-
|
|
5
|
Balangnipa
|
-
|
√
|
-
|
√
|
-
|
|
6
|
Lappa
|
√
|
|
-
|
√
|
-
|
|
SINJAI
UTARA
|
1
|
5
|
-
|
6
|
-
|
|
Sumber : Badan
Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[30]
Tabel
1.2
Luas
Desa, Jarak Dari Ibukota Kecamatan dan Kabupaten Serta Ketinggian dari
Permukaan Laut
|
NO
|
KELURAHAN
|
LUAS (
|
J A R
A K D A R I (Km)
|
KETINGGIAN
DARI PERMUKAAN AIR LAUT (METER)
|
|
|
IBUKOTA
KECAMATAN
|
IBUKOTA
KABUPATEN
|
||||
|
1
|
Alewanuae
|
5,35
|
4,5
|
4
|
± 120
|
|
2
|
Biringere
|
6,27
|
1,5
|
1
|
±71
|
|
3
|
Lamatti
Rilau
|
7,02
|
5
|
5,5
|
±126
|
|
4
|
Bongki
|
4,81
|
1
|
1
|
±71
|
|
5
|
Balangnipa
|
2,17
|
0
|
0
|
±8
|
|
6
|
Lappa
|
3,95
|
3
|
2,5
|
±1
|
|
SINJAI
UTARA
|
29,57
|
***
|
***
|
***
|
|
Sumber : Badan
Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[31]
a.
Jumlah Penduduk
Kecamatan Sinjai Utara
Dari
sumber data statistik tahun 2011 terdapat 10.037 kepala keluarga dari enam
kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara. Selain itu, banyaknya penduduk di
Kecamatan Sinjai Utara sebanyak 44.068 jiwa yang terdiri dari 21.080 orang
laki-laki dan sebanyak 22.988 orang kaum muda yang dirincikan dari setiap
kelurahan.
Untuk
mengetahui lebih jelas atau secara terperinci dapat digambarkan dalam tabel
sebagai berikut :
Tabel 1.3
Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin
dirinci Tiap Kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara
|
NO
|
KELURAHAN
|
LAKI-LAKI
|
KAUM
MUDA
|
JUMLAH
|
|
1
|
Alewanuae
|
890
|
983
|
1873
|
|
2
|
Biringere
|
4259
|
4747
|
9006
|
|
3
|
Lamatti Rilau
|
1072
|
1182
|
2254
|
|
4
|
Bongki
|
4171
|
4762
|
8933
|
|
5
|
Balangnipa
|
5337
|
5853
|
11190
|
|
6
|
Lappa
|
5351
|
5461
|
10812
|
|
JUMLAH
|
21
080
|
22
988
|
44
068
|
|
Sumber
: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[32]
b.
Pemerintahan di
Kecamatan Sinjai Utara
Kecamatan Sinjai Utara
terdiri dari 6 (enam) Kelurahan dengan jumlah lingkungan 27 (dua puluh tujuh),
Rukun Warga (RW) sebanyak 66 (enam puluh enam), Rukun Tetangga (RT) berjumlah
187 (seratus delapan puluh tujuh) dan Pamong Desa sebanyak 99 (sembilan puluh
sembilan)
Untuk
lebih jelasnya lagi dilampirkan ditabel berikut :
Tabel 1.4
Banyaknya
Lingkungan, Dusun, RW, RT dan Pamong Desa Tiap Kelurahan Di Kecamatan Sinjai
Utara
|
NO
|
KELURAHAN
|
LINGKUNGAN
|
DUSUN
|
RW/RK
|
RT
|
PAMONG
DESA
|
|
1
|
Alewanuae
|
4
|
-
|
5
|
12
|
6
|
|
2
|
Biringere
|
5
|
-
|
15
|
43
|
48
|
|
3
|
Lamatti
Rilau
|
3
|
-
|
9
|
25
|
8
|
|
4
|
Bongki
|
4
|
-
|
8
|
20
|
22
|
|
5
|
Balangnipa
|
5
|
-
|
14
|
42
|
10
|
|
6
|
Lappa
|
6
|
-
|
15
|
45
|
5
|
|
JUMLAH
|
27
|
-
|
66
|
187
|
99
|
|
Sumber
: Kecamatan Sinjai Utara
c.
Kehidupan Sosial Budaya
di Kecamatan Sinjai Utara
1.
Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk di
Kecamatan Sinjai Utara sebagian besar bekerja sebagai pegawai negeri sipil
(PNS) karena Kecamatan Sinjai Utara merupakan salah satu pusat pemerintahan
bagi Kabupaten Sinjai. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya instansi-instansi
pemerintah di Kecamatan Sinjai Utara, dengan banyaknya instansi-instansi
pemerintahan maka ini mempengaruhi masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara memilih
bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Selain pegawai negeri sipil (PNS),
masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara ada yang bekerja sebagai pertanian bahan
makanan, perternakan, perikanan, perkebunan, industri, pertambangan/pengalian,
listrik/air minum, angkutan/komsumsi, perbankkan/lembaga keuangan, perdagangan,
swasta dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya dapat
digambarkan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel
1.5
Jumlah
Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Sinjai Utara
|
NO
|
MATA
PENCAHARIAN
|
JUMLAH
|
|
|
1
|
Pertanian bahan makanan
|
1306
|
|
|
2
|
Perternakan
|
952
|
|
|
3
|
Perikanan
|
1887
|
|
|
4
|
Perkebunan
|
653
|
|
|
5
|
Perdangangan
|
3109
|
|
|
6
|
Industri
|
308
|
|
|
7
|
Pertambangan/pengalian
|
75
|
|
|
8
|
Listrik/air minum
|
121
|
|
|
9
|
Angkutan/komsumsi
|
992
|
|
|
10
|
Perbankkan/lembaga keuangan lainnya
|
342
|
|
|
11
|
Pegawai negeri sipil
|
3587
|
|
|
12
|
Swasta
|
965
|
|
|
Lain-lain
|
3286
|
2.
Agama
Seluruh
penduduk Kecamatan Sinjai Utara beragama Islam. Masyarakat Kecamatan Sinjai
Utara memiliki aktivitas keagamaan pada organisasi keagamaan yang berbeda-beda.
Hal ini dapat menunjukkan pola pemikiran masyarakat yang berbeda terutama dalam
menyikapi masalah-masalah keagamaan. Selain itu, ada dua organisasi massa
keagamaan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara yaitu Nahdatul Ulama dan
Muhammadiyah. Namun ada pula sebagian masyarakat yang tidak menentukan pilihan
pada organisasi massa keagamaan tertentu.
Untuk
lebih mengetahui keagamaan yang terjadi di Kecamatan Sinjai Utara dapat
digambarkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel
1.6
Jumlah
Tempat Ibadah yang Dirinci Tiap Kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara
|
NO
|
KELURAHAN
|
MESJID
|
MUSHOLAH
|
|
1
|
Alewanuae
|
5
|
-
|
|
2
|
Biringere
|
17
|
10
|
|
3
|
Lamatti Rilau
|
5
|
2
|
|
4
|
Bongki
|
10
|
7
|
|
5
|
Balangnipa
|
9
|
7
|
|
6
|
Lappa
|
9
|
1
|
|
JUMLAH
|
55
|
27
|
|
Sumber :Kecamatan Sinjai Utara
Berdasarkan tabel 1.3 dapat disimpulkan
bahwa di Kecamatan Sinjai Utara semua penduduknya beragama islam, selain itu
dengan jumlah 55 mesjid dan 27 musholat dapat dikatakan bahwa semua masyarakat
di Kecamatan Sinjai Utara menitik beratkan tentang keagamaan khususnya agama
Islam.
3.
Sarana Pendidikan
Pendidikan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku politik dalam memberikan
hak suaranya, untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih jelas lagi digambarkan
ditabel berikut.
Ada
pun jumlah sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara yaitu:
Tabel
1.7
Sarana Pendidikan
Yang Ada di Kecamatan Sinjai Utara
|
NO
|
SARANA
PENDIDIKAN
|
JUMLAH
|
|
1
|
TK
|
18
|
|
2
|
SD/sedrajat
|
34
|
|
3
|
SMP/sedrajat
|
11
|
|
4
|
SMA/sedrajat
|
10
|
|
JUMLAH
|
73
|
|
Sumber :Kecamatan Sinjai
Utara
Pendidikan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat perilaku politik
seseorang. Dari tabel 1.4 dapat kita simpulkan bahwa sarana pendidikan yang ada
khususnya di tingkat TK hingga SMA cukup memadai. Jumlah sarana pendidikan yang
ada sebanyak 73 buah dinilai sangat memadai dan mencukupi untuk menampung
jumlah penduduk Kecamatan Sinjai Utara yang hampir mencapai 45 ribu jiwa.
Di
Kecamatan Sinjai Utara ini juga terdapat 3 (tiga) Perguruan Tinggi yaitu: STAI
Muhammadiyah, YPA Hamdayani dan AKBID Madani. Jumlah perguruan tinggi yang ada
di Kecamatan Sinjai Utara ini cukup memadai untuk menampung mahasiswa warga Sinjai
Utara.
Hal
ini membuat calon Bupati dan Wakil Bupati harus lebih cerdas dalam merebut
suara di Kecamatan Sinjai Utara, dikeranakan penduduk yang berpendidikan tinggi
lebih cenderung menjadi tipe Pemilih Rasional. Untuk itu dalam meraih suara di
Kecamatan Sinjai Utara ini, pasangan calon tidak cukup hanya melakukan
pendekatan sosiologi tetapi juga harus mengunakan pendekatan rasional dan
psikologis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara
umum pilihan merupakan salah satu aspek dari perilaku. Perilaku baik secara
umum ataupun perilaku pada wilayah yang lebih spesifik seperti perilaku
politik, merupakan hasil dari proses interaksi sosial yang cukup kompleks.
Interaksi itu melibatkan banyak hal, mulai dari bentuk interaksi, karakter
lingkungan dan juga karakter masyarakat. Dalam interaksi sosial, terdapat
berbagai stimulus yang akan disambut dan dikelola oleh bangunan kognisi
masyarakat yang berbeda-beda. Perilaku politik juga berupa proses yang
melibatkan berbagai hal. Stimulus politik atau suatu fenomena akan ditafsirkan
berbeda oleh setiap orang, tergantung bangunan kognisinya. Pemahaman akan
sesuatu merupakan bentukan proses yang panjang yang melibatkan lingkungan
sosial yang memiliki pengaruh yang besar.
|
36
|
Berdasarkan
pada rumusan masalah, dimana untuk mengetahui perilaku politik kaum muda di Kecamatan
Sinjai Utara. Bab ini akan mengulas secara mendalam tentang perilaku politik
kaum muda. Cakupannya berkisar pada pilihan-pilihan politik, selain itu
terdapat sikap dan tindakan yang juga berupa partisipasi dalam pemilihan bupati
tahun 2013. Ada berbagai hasil yang ditemukan pada bagian ini. Kondisinya tidak
sama pada setiap kaum muda, sebab setiap kaum muda memiliki konteks dan
pemikiran masing-masing. Selain itu, faktor-faktor sosial juga sangat
berpengaruh. Adanya akses informasi yang berbeda dan juga proses sosialisasi dilingkungan
masing-masing juga menjadi variabel yang sangat berpengaruh terhadap pilihan
politik.
Penelitian
ini dilakukan di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Penelitian ini berlangsung lebih kurang tiga bulan
yaitu pada tanggal 16 Juli 2013 sampai dengan tanggal 16 September 2013.
Adapun data yang dikumpulkan dari
penelitian ini berasal dari hasil wawancara dengan informan, berbagai literatur
dan artikel-artikel, surat kabar dan juga tulisan-tulisan yang berhubungan
dengan tema yang diteliti dan sangat membantu dalam penelitian ini.
Dalam
melakukan penelitian ini sebanyak 23
(dua puluh tiga)
orang informan. Dari 23
(dua puluh tiga)
informan ini masing-masing dari kalangan profesi yang berbeda, antaranya yakni
6 (enam) orang dari kalangan yang berprofesi sebagai Lurah dan 17 ( tujuh belas) orang kaum muda
yang memiliki pengalaman politik atau mengetahui dunia politik dan para tim
sukses yang berperan aktif dalam memilihan bupati di Kecamatan Sinjai Utara dan
mengetahui tentang dunia perpolitikan kaum muda pada masa sekarang.
Masing-masing informan ini kesemuanya berdominsili di Kecamatan Sinjai Utara.
Pada topik ini, dihadirkan gambaran tentang perilaku politik kaum muda dan
hal-hal yang mendasari pilihan politik tersebut. Terdapat juga faktor sosial
yang mempengaruhi pilihan politik menjadi sangat beragam. Faktor-faktor sosial
pun menjadi hal yang sangat berpengaruh dan dari hal tersebut dapat diidentifikasi
orientasi pemilih dan hal-hal yang mendasari pilihan-pilihan politik kaum muda
di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Table 1.8
Daftar Nama
Informan
|
No
|
Nama
|
Kegiatan dan
Profesi
|
Pend. Terakhir
|
|
1
|
As’ad
Mustamin, BA
|
Kepala
Kelurahan Lamatti Rilau
|
SMU
|
|
2
|
A.Manggalatung
Lamatti
|
Kepala
Kelurahan Balang Nipa
|
SMU
|
|
3
|
Baharuddin
|
Kepala
Kelurahan Lappa
|
SMU
|
|
4
|
A.Muliati
Anwar
|
Kepala
Kelurahan Biringere
|
Strata 2
|
|
5
|
Hisbullah Mus
|
Kepala
Kelurahan Alehauwae
|
Strata 1
|
|
6
|
Akbar Andi
Mappa
|
Sekertaris Kelurahan
Bongki
|
Strata 1
|
|
7
|
Rusli
|
Petani
|
SMP
|
|
8
|
Irfan
|
Petani
|
SMU
|
|
9
|
Awaluddin
|
Tim sukses
|
SMU
|
|
10
|
Haris
|
Petani
|
SMU
|
|
11
|
Muhammad
Taufik
|
Mahasiswa
|
SMU
|
|
12
|
Iccang
|
Nelayan
|
SMP
|
|
13
|
Risal
|
Remaja masjid
|
SMU
|
|
14
|
Zainal
|
Petani
|
SMP
|
|
15
|
Aming
|
Petani
|
SMP
|
|
16
|
Karim
|
petani
|
SD
|
|
17
|
Temmang
|
Petani
|
SD
|
|
18
|
Ilham
|
Mahasiswa
|
SMU
|
|
19
|
Saini
|
Pedagang
|
SMU
|
|
20
|
Aman
|
Buruh bangunan
|
SMU
|
|
21
|
Anwar
|
Petani
|
SMP
|
|
22
|
Fajar
|
Mahasiswa
|
SMU
|
|
23
|
Edi
|
Buruh bangunan
|
SMU
|
Table 1.8 menjelaskan tentang jumlah informan yang
dibutuhkan dalam memperoleh data dilapangan, adapun informan yang diwawancarai
adalah orang-orang yang mengerti tentang dunia politik dan ikut serta dalam
pesta demokrasi yang terjadi di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai
utara. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 23 orang informan yang berlatar
belakang yang berbeda-beda. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana perilaku
politik kaum muda dalam Pemilihan Bupati Tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara
Kabupaten Sinjai.
A. Perilaku Politik Kaum Muda dalam Pilbup Tahun 2013
Dalam
pemilihan Bupati di Kabupaten Sinjai
pada tahun 2013, besarnya jumlah suara yang diperoleh adalah salah satu kunci
utama untuk semua kandidat memenangkan pemilihan Bupati yang terjadi di Kabupaten
Sinjai. Karena dengan banyaknya suara yang didapatkan dari hasil pemilihan,
maka kandidat atau calon yang terdaftar secara resmi di KPU akan menjadi
pemimpin (Bupati) di Kabupaten Sinjai. Dimana rakyat memiliki hak penuh untuk
memilih siapa pemimpin mereka melalui Pemilihan Umum.
Perilaku politik merupakan produk sosial, ada berbagai
macam faktor sosial yang saling berpengaruh dan menimbulkan berbagai reaksi
terhadap objek-objek politik. Pada bagian ini akan digambarkan mengenai
informasi-informasi yang diperoleh oleh kaum muda tentang proses pemilihan
bupati dan proses politik yang ada. Informasi yang diterima akan saling terkait
dengan lingkungan sosial dan karakter dan aspek kognisi kaum muda. Selain itu,
akan diidentifikasi keikutsertaan dan informasi yang diterima tentang proses
tersebut seperti kandidat-kandidat yang maju pada pemilihan Bupati pada tahun
2013.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sejauh mana
informasi yang diterima oleh kaum muda pada prose pemilihan bupati tahun 2013,
maka diajaukan beberapa pertanyaan sebagai indikator untuk mengetahui hal
tersebut untuk mengetahui keikutsertaanya pada pemilihan bupati. Diantaranya
adalah; Bagimana pendapat anda tentang pemilihan
bupati di kecamatan Sinjai Utara,
Bagimana
pendapat anda tentang perilaku politik kaum muda dalam pilbup tahun 2013 dan Apa faktor yang paling
dominan yang mempengaruhi anda untuk memilih calon dalam pemilihan bupati di Sinjai. Pertanyaan yang lebih mendetail juga diajukan untuk
memperoleh gambaran yang jelas tentang informasi dan pengetahuan kaum muda
seperti tanggapan terhadap keterlibatan kaum muda pada proses pemilihan bupati
dan seberapa penting proses pemilihan umum berpengaruh pada kehidupannya.
Dari hasil wawancara yang dilakukan di kantor
Kelurahan dengan informan Kepala Kelurahan Alehanuwae Bapak Hisbullah Mus di kecamatan Sinjai Utara mengaku melibatkan diri atau
turut berpartisipasi pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai. Dia
mengakui banyak informasi yang dia terima tentang proses politik tersebut.
Dalam melihat perilaku politik kaum muda yang terjadi diwilayah
pemerintahannya, Bapak Hisbullah Mus mengaku kaum muda memiliki alasan yang kuat dan sangat bijak untuk
menjatuhkan pilihannya berdasarkan keinginannya hal ini karena kaum muda
sekarang telah teliti walaupun mereka tinggal dipingiran kota, dimana letak
wilayahnya adalah Kelurahan tapi keadaan goegrafaisnya masih terlihat seperti
sebuah Desa. Bapak Hisbullah Mus mengungkapkan:
“…kaum muda sudah pintar menentukan pilihannya…kaum
muda agak bagus untuk menetapkan pilihannya dia paling pintar untuk memilih dan
betul-betul tidak terpengaruh dengan orang lainnya…”.[33]
Seorang sekertaris lurah yaitu Bapak Akbar
Andi Mappa, berpendapat bahwa perilaku politik kaum muda di wilayahnya yaitu
Kelurahan Bongki, telah memperlihatkan banyak kemajuan dan telah melakukan
pemikiran-pemikiran yang positif. Waktu ditemui di kantor Kelurahan Bongki
Bapak Akbar Andi Mappa mengungkapkan:
“…dikalangan pemuda dalam pemilihan
pilkada Sinjai beberapa bulan yang lalu, Alhamdulillah telah mengetahui sedikit
masalah politik kaum muda memberikan pemikiran-pemikiran yang positif kepada
kita semua dalam rangka pemilihan bupati Sinjai…”.[34]
Selain itu peneliti juga melakukan wawancara di Kelurahan Lamatti Rilau
yang merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara.
Adapun informan adalah salah seorang Kepala Keluran Lamatti Rilau yaitu Bapak
As’ad Mustamin, BA. Dalam wawancaranya yang dilakukan di kantor kelurahan
Lamatti Rilau, Bapak As’ad Mustamin, BA mengutarakan bahwa kaum muda di
wilayahnya sudah bijak melakukan pemilihan dan dan dapat memahami apa yang di
katakan dengan pesta demokrasi dan kaum mudanya telah teliti untuk memilih
siapa pemimpin yang cocok untuk memimpin Kabupaten Sinjai. Bapak As’ad
Mustamin, BA mengatakan :
“…Perilaku
politik untuk kaum mudanya itu tindak lanjutnya atau tingkah lakunya menghadapi
masalah pemilu kayaknya sudah bagus semua karena sudah menyadari bahwa hal-hal
yang berhubungan dengan masalah politik khususnya Pilkada Bupati, dia sudah tau
tentang arah yang dia lakukan dan arah yang dia laksanakan atau arah kedepan
lima tahun akan datang, maka dia memilih sesuai dengan apa yang dia harapkan
lima tahun kedepan…”.[35]
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh
kepala Kelurahan Balang Nipa yaitu Bapak A.Manggalatung Lamatti[36]
dan Kepala Kelurahan Lappa yaitu Bapak Baharuddin[37],
yang mengatakan bahwa kaum mudah sudah mulai cerdas dan pintar dalam menghadapi
pemilihan bupati tahun 2013.
Terkait dengan perilaku politik kaum muda di
Kecamatan Sinjai Utara, peneliti juga mewawancarai seorang Kepala Kelurahan
Biringere yaitu Ibu A.Muliati Anwar, S.sos, MH, karena Kelurahan Biringere
adalah wilayah yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara. Dalam pelaksanaan
pemilihan umun Bupati di Kabupaten Sinjai khususnya di Kecamatan Sinjai Utara,
kaum muda telah melakukan atau telah memperlihatkan perilaku politik yang sehat
tanpa adanya benturan dengan kaum muda yang lainnya, mereka saling bersaing dan
tetap menjaga ketertiban dalam pemilihan bupati (Pilbup). Waktu diwawancarai
Ibu A.Muliati Anwar, S.sos, MH selaku Kepala Kelurahan Biringere mengatakan:
“…walaupun kaum
muda beda pendapat, beda pilihan tapi tetap alhamdulillah, tidak ada
bertengkar, dan tidak ada apa ini. Berkat adanya melihat kedepan ini dan
sosialisasi kebawa bagaimana menjaga ketertiban, menjaga keutuhan dan menjaga
cinta untuk kita semua…”.[38]
Partisipasi yang tinggi juga oleh seorang
informan yang memang aktif dalam pemilihan bupati di sinjai khususnya di
Kecamatan Sinjai Utara, ia tidak sekadar memilih tapi turut aktif dan
mengetahui visi dan misi setiap kandidat. Keikutsertaan kaum muda pada wilayah
yang mempengaruhi kebijakan publik dan menganggap bahwa kaum muda harus punya
peran ditunjukan oleh seorang informan dari kalangan kaum muda. Akses informasi
menjadi hal yang sangat berpengaruh, hal ini ditunjang oleh tingkat pendidikan
yang memudahkan terhadap aksese informasi.
Rusli, adalah salah seorang informan, dia
seorang yang aktif dalam pemilihan Bupati di Kecamatan Sinjai Utara, dia
mengakui bahwa banyak informasi yang dia terima tentang proses politik
tersebut. Informasi tersebut dia dapatkan dari keluarga, tim sukses kandidat
dan dari sejumlah media massa yang beredar di wilayah Kecamatan Sinjai Utara.
Dalam hal perilaku politiknya Rusli
mengatakan memiliki alasan yang sangat kuat untuk menjatuhkan pilihannya
berdasarkan pilihannya dan sesuai dengan cara berfikirnya. Rusli mengungkapkan:
“…kaum muda
harus cerdas dalam melakukan pilihannya, meskipun banyak yang mempengaruhi
untuk memilih kandidat mau itu lewat keluarga saya dan teman-teman saya, tapi
saya tetap memilih kandidat dengan hati nurani saya sesuai dengan cara pandang
saya. Contohnya melihat visi dan misiserta program yang akan ditawarkan jika
terpilih nanti…”[39]
Pilihan rasional Rusli tidak didasarkan
pada sesuatu yang menjadi pilihannya
atau sesuatu yang menjadi sumber pilihannya sebagai induvidu atau aktor, yang
terpenting adalah kenyataannya bahwa tindakan yang dilakukan untuk mencapai
sesuai dengan tindakan pilihan aktor.[40]
Perilaku politik Irfan merupakan hasil
dari proses sosialisasi, dengan akses informasi ide dan program yang ditawarkan
para kandidat. Dengan pengetahuan yang diperoleh, itu akan menjadi landasan
dasar dalam pemberian penilaian terhadap objek-objek politik. Informasi ini
bisa saja diterima melalui media massa, keluarga dan lingkungan sosial atau
melalui kampanye yang dilakukan oleh kandidat yang bertarung untuk menempati
jabatan sebagai Bupati Sinjai Tahun 2013.[41]
Dalam penelitian ini, peneliti menemui
informan lainnya mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi dan keterlibatan kaum
muda pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai
Utara sudah menunjukkan perbaikan yang
memuaskan. Awaluddin, seorang informan yang ditemui dirumahnya mengatakan bahwa
perubahan saat ini sudah memperlihatkan potensi yang sangat besar. Awaluddin
yang merupakan seorang tim sukses kandidat pemenang Bapak Sabirin Yahya dan
wakilnya Andi Fajar, melihat dengan adanya perubahan yang sudah cukup baik pada
keterlibatan dan perilaku politik kaum muda pada pemilihan Bupati di Kecamatan Sinjai
Utara Kabupaten Sinjai. Pada pilihan politik semua kaum muda telah menjatuhkan
pilihanya dengan penilaian yang objektif, banyak informasi yang mengenai latar
belakang kandidat maupun program yang ditawarkan telah memadai untuk kalangan
kaum muda. Hal ini diungkapkan oleh Awaluddin:
“…menurut saya
saat ini perkembangan partisipasi dan perilaku politik kaum muda saat ini telah
memperlihatkan hal yang sangat memuaskan khusunya di Kecamatan Sinjai Utara.
Mereka telah memilih secara objektif dari hasil informasi yang mereka dapatkan,
contohnya dari partai politik yang mengusung calon dan dari berbagai siaran
radio atau media massa…”.[42]
Ruang lingkup sosial telah memberikan
ruang untuk mengelola suatu informasi dan telah memunculkan reaksi terhadap
perkembangan politik. Pola partisipasi yang didasari oleh banyaknya informasi
yang diterima dan mudah diakses untuk mengetahui informasi tersebut, telah
memunculkan reaksi yang berbeda-beda terhadap objek politik. Selain membangun
kognisi, aspek afeksi dan aspek avaluatif dapat memiliki peranan dalam tandakan
yang dimunculkan sebagai reaksi. Perilaku politik didasarkan pada pengetahuan
dan kumpulan informasi. Informasi yang digunakan adalah sebagai bahan evaluasi
untuk melihat prosese politik. Seorang informan yang berasal dari kader partai
Golkar (golongan karya), saat dijumpai dirumahnya menganggap bahwa proses
politik yang ada cenderung tidak sesuai dengan yang semestinya. Proses politik
yang dia amati bisa lebih dewasa dan mendidik masyarakat. Informan ini lebih
mengutamakan proses sosialisasi sekalipun dia sendiri belum puas dengan
sosialisai yang telah dilakukan di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai
Utara.
Hal ini yang menimbulkan kekecewaanya
terhadap proses yang telah dilakukan, Haris telah menganggap bahwa pemilihan
Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai merupakan proses
yang penting demi kebaikan bersama. Karena itu proses pelaksananya harus lebih
baik dan sehat, dan tidak seperti sebelumnya. Haris mengatakan:
“…pada pemilihan
Bupati di Kecamatan Sinjai Utara apalagi bagian Kota saat ini saya sangat
kecewa, seperti yang saya lihat, masih kurang kedewasaan dalm perpolitikan dari
semua kandidat, contohnya saat kampanye, para kandidat masih biasa-biasa saja
dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan kosong yang tidak
dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat menyampaikannya dan tidak di
mengerti, mestinya partai politik saat kampanye, para kandidat masih
biasa-biasa saja dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan kosong
yang tidak dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat menyampaikannya
dan tidak di mengerti, mestinya partai politik saat kampanye, para kandidat
masih biasa-biasa saja dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan
kosong yang tidak dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat
menyampaikannya…”.[43]
Selain itu, informasi yang diterima, akan
diolah dan dikaitkan dengan refrensi tentang proses politik yang ada, hal ini
merupakan bagian dan nantinya memunculkan reaksi. Menurut Haris, dalam proses
pengamatan selama pemilihan Bupati dengan mengumpulkan berbagai informasi, dan
nantinya terdapat alat yang dapat menilai jalanya proses politik selama ini.
Kepedulian adalah suatu realitas meskipun tidak ikut serta dalam pemilihan
bupati tahun 2013.
Peneliti juga mewawancara salah seorang
kaum muda yang bersataus mahasisawa di STAI
Muhammadiyah Sinjai, memaparkan tentang
proses Pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai
secara keseluruhan yang belum maksimal. Muhammad Taufik adalah seorang
mahasiswa yang cukup jeli mengamati proses pemilihan Bupati tahun 2013 apalagi
berhubungan dengan kaum muda. Muhammad Taufik mengaku tidak ikut serta memilih,
karena pada saat pemilihan Bupati, Kecamatan Sinjai Utara memasuki iklim ke sawah, dia harus kesawah
untuk membantu orang tuanya karena pada saat pemilihan Bupati kampungnya libur,
jadi dia memanfaatkan untuk waktu libur untuk ke sawah daripada ikut memilih.
Selain itu Muhammad Taufik mengatakan proses politik dengan memilih Calon Bupati
belum tentu dapat mengrealisasikan segala keinginanya termasuk masyarakat
Kecamatan Sinjai Utara. Muhammad Taufik mengungkapkan:
“…saat saya kuliah banyak
sekali kegiatan kampus yang saya harus ikuti dan tidak ada waktu untuk membantu
orang tua yang sudah tidak kuat untuk ke sawah, jadi saya mengunakan waktu
libur untuk membantu orang tua saya dari pada ikut berpartisipasi dalam
pemilihan Bupati tahun 2013, saya sering juga disuruh oleh keluarga untuk
memilih dan memilih kandidat yang sama dengan meraka, tapi saya tidak mau dan lebih
memilih ke sawah…”.[44]
Muhammad Taufik adalah seorang informan yang
mengumpulkan banyak informasi tentang proses Pemilihan Bupati, proses politik
biasanya dapat dipahami sebagai upaya untuk menciptakan tatanan yang lebih baik
dalam masyarakat, dari hal itu dapat mengkomodasi berbagai kepentingan. Informasi
yang diterima akan diolah dengan berbagai pengetahuan tentang realitas politik
yang ada. Kedua informan yang ditemui pada dasarnya memiliki kepedulian
terhadap jalannya proses demokrasi. Sehingga memunculkan reaksi terhadap
realitas yang ada. Reaksi tersebut berupa ketidaksetujuan dengan mekanisme yang
dianggap tidak semestinya. Menurut Coleman sebagai individu yang dipandang
sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud, artinya individu
atau aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai
tujuan itu.[45] Berdasarkan pengetahuan
dan bangunan kognisi serta memadainya informasi yang diterima oleh kaum muda membuat perilaku politik didasarkan
pada realitas dan penilaian terhadap proses politik yang diamati.
Peneliti juga menemukan informan kaum muda yang
memiliki pengetahuan yang sangat kurang dalam menentukan pilihannya pada
Pemilihan Bupati tahun 2013. Peneliti menemukan beberapa orang informan yang
tidak mengetahui nama-nama kandidat yang bertarung pada Pemilihan Bupati tahun
2013. Adapun yang hanya diketahui adalah beberapa partai yakni Golkar dan
Demokrat saja.
Iccang adalah seorang kaum muda yang pekerjaanya
sebagai nelayan dan tinggal di Kelurahan Lappa yang posisinya di pesisir pantai
mengakui bahwa tidak tahu nama-nama kandidat yang maju pada Pemilihan Bupati
tahun 2013. Saat di wawancarai di rumahnya dia mengaku ikut memilih pada
pemilihan Bupati tahun 2013, tapi lupa nomor berapa yang dia pilih, bahkan
katanya lagi dia hanya memilih partainya saja dan ia tidak mengatahui siapa
nama calon yang ada di kertas suara tersebut. Selain itu katanya Iccang dia
memilih kandidat yang diminta oleh tim sukses kandidat dan diminta oleh pak
Rtnya, hasil wawancara Iccang:
“…saya itu nelayan, selalu
kelaut untuk cari uang, jadi tidak ada waktu untuk mencari tahu tentang sapa
calon mau dipilih. Ada orang dating suruh pilih itu, ya di pilh saja soalnya
pak RT juga suruh, baru dikasilihat gambarnya yang aku ingat partainya saja…”.[46]
Selain itu juga, tambahan dari seorang kaum muda yang
bernama Risal, yang diwawancari dihalaman masjid Kelurahan Biringere mengatakan
perilaku politik kaum muda sekarang telah moderen, telah mengetahui banyak
tentang politik khususnya pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai.
Tambahnya lagi kaum muda telah melakukan pilihannya secara rasional tanpa
adanya introfensi dari pihak-pihak luar apalagi para tim sukses kandidat.[47]
Risal adalah salah seorang remaja masjid yang selalu
aktif dalam kajian-kajian keagamaan, dengan bermodalkan kajian-kajian yang dia
ikuti Risal dapat menganalisis segala proses pemilihan yang terjadi di
Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Risal juga mengaku telah menjalankan
tangungjawabnya sebagai masyarakat Kabupaten Sinjai dengan ikut memilih pada
Pemilihan Bupati tahun 2013, karena ia sadar akan pentingnya memberikan
suaranya.
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh salah seorang
kaum muda yang bernama Zainal yang merupakan warga Kelurahan Balang Nipa,
mengatakan kaum muda sekarang telah melakukan pilihannya secara rasiaonal tanpa
adanya introvensi dari luar baik itu tim sukses para kandidat.[48]
Dari pernyataan-pernyataan informan yang telah
ditemui, dapat diketahui bahwa proses pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai
Utara, merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Dengan banyaknya informasi dan
pengetahuan tentang pemilihan umum, kaum muda dapat menentukan pilihannya
karena dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari teman-teman maupun
pergaulan dan sekitar mereka. Dalam penelitian ini juga terdapat beberapa kaum
muda yang kuarang mengetahui dunia perpolitikan hal ini terjadi karena
kesibukan yang mempengaruhi pemikiranya sehingga agak minimnya informasi yang
berhubungan pemilihan Bupati tahun 2013.
B.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Pilihan Politik Kaum Muda
Dalam setiap pemilihan umum yang
dilaksanakan di Indonesia, setiap warganegara yang terdaftar berhak untuk ikut berpartisipasi
dan menjatuhkan pilihan-pilihan berdasarkan keinginan dan penilainya.
Keikutsertaan kaum muda yang merupakan kelompok besar secar kategori, hal ini
dapat diukur pada proses pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai
khusunya Kecamatan Sinjai Utara. Tingkat partisipasi kaum muda dapat
dibandingkan dengan jumlah kuantitas, yang dapa dasrnya akan merasakan hasil
dari pesta demokrasi ini.
Pada pemilihan Bupati tahun 2013,
pilihan-pilihan politik kaum muda tidak hadir begitu saja atau muncul dengan
sendirinya, akan tetapi dipengaruhi oleh berbagai hal. Kaum muda dan politik
merupakan suatu fenomena yang sangat menarik atau khas, karena didalamnya
mencakup segala pola perilaku politik kaum muda dengan berbagai faktor sosial
yang mempengaruhinya.
Pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai
Utara, merupakan suatu rangkaian proses demokrasi yang telah menyajikan
berbagai macam rangkaian peristiwa, setiap induvidu akan menyambut hal tersebut
secara berbeda-beda sesuai dengan informasi yang didapatkan. Dalam proses
pemilihan Bupati ada banyak ragam informasi yang telah disediakan, baik dari
pihak pelaksana pemilihan Bupati terkait dengan tata cara memilih dengan baik
dan benar, selain itu peserta pemilihan Bupati juga (kandidat) turut bekerja terutama
tantang apa yang akan merka lakukan sebagai bentuk kontribusi positif mereka
jika ingin dipilih oleh para pemilih.
Ada berbagi hal yang terlibat dalam proses
munculnya perilaku poltik kaum muda. Proses menjatuhkan pilihan dan pemahaman
serta tanggapan terhadap berbagai fenomena politik didasari oleh berbagi hal
dan faktor sosial. Hal ini akan memunculkan dimensi kognisi dan juga dimensi
afeksi berupa hal-hal yang bersifat emosional. Selain hal itu, terdapat dimensi
evaluatif yang menjadi prefensi dalam bersikap selanjutnya.
Dari pernyataan diatas maka dari itu,
untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari atau mempengaruhi perilaku
politik kaum muda dan hal-hal yang mendasari pilihan-pilihan politiknya, maka
diajukan pertanyaan-pertanyaan inti untuk mendapatkan keterangan yang lebih
jelas atau lebih detail dari informan yang diwawancarai. Pertanyaan yang
diajukan adalah partisipasi mereka dalam pemilihan Bupati tahun 2013 lalu.
Pertanyaan keduanya adalah hal-hal yang mendasari ketika menjatuhkan pilihan
politiknya pada saat pemilihan Bupati tahun 2013. Disamping kedua pertanyaan
utama tersebut, diajukan beberapa pertanyaan untuk mengontrol dan mengarahkan
jawaban informan yang lebih valid.
Dari hasil wawancara yang dilakukan maka dapat ditemukan beberapa faktor yang
mempengaruhi pilihan politik kaum muda pada pemilihan Bupati tahun 2013 di
Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai antarnya adalah:
1.
Proses Sosialisasi Politik
Sosialisasi politik adalah proses yang
dapat mempengaruhi seorang induvidu untuk bisa mengendali sistem politik, yang
kemudian menentukan persepsi serta reaksiya terhadap gejala-gejala politik.[49]
Proses sosialisasi merupakan suatu proses
transmisi nilai dalam suatu masyarakat tertentu dari generasi generasi yang
berlangsung sepanjang waktu. Dalam proses sosialisasi, masyarakat akan
memeperoleh banyak informasi, ide dan nilai-nilai yang akan menjadi pengetahuan
bagi setiap masyarakat. Pengetahuan yang diperolah akan menjadi dasar dalam
memberikan penilaian terhadap objek-objek politik. Informasi ini diterima oleh
individu melalui media, keluarga dan lingkungan sosial dan menjadi dasr
pengetahuan yang digunakan bagi masyarakat atau individu untuk menjatuhkan
pilihan politiknya.
Proses transmisi nilai-nilai yang diterima
setiap individu berasal dari keluarga, lingkungan pergaulan sehari-hari dan
media massa. Nilai-nilai yang diterima oleh setiap individu inilah yang akan
membentuk persepsi seseornag terhadap fenomena politik. Prosese sosialisasi
juga membentuk predisposisi seseorang dalam menilai sesuatu.
Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Sinjai
Utara ini, menunjukkan bahwa lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar
bagi seseornag dalam membentuk pengetahuan-pengetahuan tertentu. Lingkungan
sosial seperti keluarga, teman sepermainan, sekolah dan pekerjaan serta media
massa berperan sangat besar dalam membentuk struktur pengetahuan dan prefensi
seseorang untuk menjatuhkan pilihan politiknya dalam pemilihan Bupati tahun
2013.
Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan
beberapa pertanyaan tentang sumber memperoleh pengetahuan tentang masalah
politik dan bagaimana pengaruh pengetahuan tersebut terhadap pilihan
politiknya. Dalam menjawab pertanyaan ini, sebagian
besar informan mengatakan bahwa pengetahuan yang mereka miliki mereka tentang politik
mereka dapatkan dari lingkungan pergaulan seperti keluarga, teman, sekolah,
pekerjaan, dan orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Disamping itu informan juga mengatakan memperoleh informasi dan pengetahuan
tentang politik dari membaca koran, majalah, mendengarkan radio dan menonton
televisi.
Ketika
informan ditanya tentang pengaruh pengetahuan mengenai masalah-masalah politik
dengan pilihan-pilihan politiknya, informan menjawab bahwa mereka kurang
mendapatkan pengetahuan tentang tata cara memilih dan terutama tentang profil kandidat dan partainya.
Terutama partai-partai yang tidak populer, meskipun ada peran media massa
seperti televisi, akan tetapi kecenderungan kaum muda kurang memiliki perhatian
pada masalah-masalah politik, kecuali kaum
muda pada kalangan-kalangan tertentu yang memiliki
tingkat pendidikan yang relatif tinggi dan memilki aktivitas di wilayah publik.
Arahan akan pilihan-pilihan politik akan cenderung lebih banyak mereka dapatkan
dari keluarga, kelompok bergosip (teman sepergaulan) dan bahkan dari elit-elit
kampung (kepala Desa, Dusun, RT/RW) yang secara tidak langsung memberikan informasinya pada seorang kandidat tertentu.
Domestifikasi
sosial atas peran-peran kaum muda
yang cenderung berkembang di kalangan pemuda
kampung, justru cenderung membuat kaum
muda di Kecamatan Sinjai
Utara malah rentan menjadi komodifikasi keluarga dalam
transaksi politik Uang, yang dilakukan oleh anggota keluarga seperti orang tua kaum muda itu.
Hal ini terlihat jelas bahwa
lingkungan pergaulan, keluarga dan media memberi kontribusi yang cukup besar
dalam membentuk pengetahuan seseorang terhadap informasi politik. Pada
gilirannya, pengetahuan inilah yang digunakan untuk menjatuhkan pilihan
politiknya. Jadi disini terlihat jelas peran lingkungan dan akses informasi
dalam mempengaruhi pilihan politik seseorang
khususnya para kaum muda.
Salah seorang informan yang bernama Aming yang berasal
dari Kelurahan Bongki Kecamatan Sinjai Utara, ia mengatakan bahwa informasi
tentang pemilihan Bupati tahun 2013 dan nama-nama kandidat yang ikut bertarung
merebut jabatan sebagai Bupati, dia dapatkan dari keluarganya.[50]
Kondisi
yang dialami oleh Aming
di atas menggambarkan bahwa keluarga sangat berperan. Dalam proses sosialisasi yang berlangsung dalam
lingkungan keluarga, hal itu merupakan transimisi nilai-nilai yang dianut atau
dimiliki dalam lingkungan
keluarga. Dimana nilai-nilai tersebut diajarkan kepada anggota keluarga yang
lain sehingga akan mempengaruhi struktur pengetahuan dalam memandang fenomena
politik.
Hal ini juga hampir senada dengan Temmang dan Karim,
salah seorang informan yang ditemui di pos ronda Kelurahan Alehanuwae, waktu
ditemui mengaku mereka mendapatka banyak informasi tentang kandidat dari
lingkungan pergaulannya.[51]
Selain itu, seorang informan yang bernama Ilham yaitu seorang mahasiswa, mengatakan
telah banyak berdiskusi dengan teman-teman mahasiswanya serta orang-orang yang
memiliki banyak informasi tentang proses pemilihan umum dan para kandidat yang
menjadi peserta dalam pemilhan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten
Sinjai. Selain informasi dari teman-teman lingkungannya, Ilham juga telah
mengakses informasi dari berbagai media massa tentang kandidat yang menjadi
peserta pada pemilihan Bupati dan dia juga membaca buku-buku yang berhubungan
dengan politik. Ilham mengatakan:
“…semasa di Kampus, saya
sering berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa, kadang juga dengan dosen,
selain itu juga jika berada di luar Kampus saya bicara masalah politik dengan
orang-orang yang sering bersentuhan dengan politik, saya juga mencari informasi
lain dengan membaca Koran dan mendengarkan Radio, biasa juga baca buku…”[52]
Data
yang diperoleh selama penelitian juga menunjukan relasi yang kuat antara
lingkungan pergaulan seperti lingkungan tempat tinggal, lingkungan pendidikan
dan lingkungan pekerjaan dalam mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap
fenomena politik. Kebanyakan informan dalam penelitian ini mengaku memperoleh
pengetahuan tentang politik dari lingkungan keluarga dan pergaulan mereka.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut kebanyakan berupa pengetahuan tersebut
terutama tentang para kandidat.
Kebanyakan informasi tentang kandidiat
banyak didapatkan justru dari mulut ke mulut dari sesama pergaulan di
lingkungan masing-masing ketika mereka membicarakan tentang pilihan-pilihan
politik mereka sendiri ataupun pilihan orang tuanya.
Kurangnya
informasi tentang kandidat dari media massa, tentunya terkait dengan kemampuan
para kandidat untuk mengakses media massa, sehingga untuk konteks
komunitas/basis massa mereka akan lebih cenderung menggunakan instrumen-instrumen
politik yang lebih menyentuh komunitas terutama melalui instrumen struktural
kampung (kepala Desa, Kepala Dusun, RT/RW) ataupun hubungan-hubungan
kekeluargaan yang diharapkan akan mampu memberikan dampak yang luas bagi
keterpilihannya.
Ini
menunjukkan bahwa korelasi lingkungan sosial dengan pilihan politik sangat
erat, lingkungan pergaulan dalam hal ini berupa lingkungan tempat tinggal dan
keluarga serta lingkungan pendidikan sangat berpengaruh dalam penyediaan
informasi dan membentuk pengetahuan-pengetahuan
terhadap pilihan-pilihan politik. Pada sisi yang lain media massa juga
menyediakan informasi cukup berperan akan tetapi kurang memberikan pengaruh.
Proses sosialisasi yang berlangsung dalam lingkungan sosial membawa dampak pada
terbentuknya persepsi seseorang terhadap objek-objek politik yang pada akhirnya
berpengaruh pada pilihan politik. Terdapat hal yang sangat penting dalam proses
sosialisasi ini, proses sosialisasi pada dasarnya menyediakan berbagai
informasi untuk orang-orang yang berada dalam suatu komunitas.
Tersedianya
berbagai informasi dapat memudahkan seseorang untuk membentuk
pengetahuan-pengetahuan tentang objek politik. Informasi-informasi yang
diterima tentang pemilihan bupati
dan pasangan kandidat akan memudahkan seseorang untuk melakukan penilaian yang
akan berujung pada pilihan-pilihan politik. Akses informasi yang baik, akan
membentuk pengetahuan yang berkesinambungan pula.
Dalam
penelitian ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang seberapa penting
informasi tentang politik serta proses pemilihan bupati dan bagaimana upaya mendapatkan
infomasi tersebut. Sebagian besar informan menjawab bahwa informasi tentang
Pemilihan Bupati dan para kandidat
kurang memadai sebab informasi tentang hal tersebut tidak terlalu penting dan
menganggap informasi tersebut tidak terlalu berhubungan dengan dirinya dan
tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada kemungkinan perubahan kehidupan
pribadinya maupun keluarganya.
Akses
terhadap informasi adalah suatu proses yang berbeda-beda pada setiap kaum muda yang menjadi informan
dalam penelitian ini. Faktor lingkungan sosial juga menjadi hal yang sangat
penting dalam menyediakan berbagai informasi. Terdapat lingkungan yang
memudahkan kaum muda
dalam mendapatkan informasi dan terdapat pula lingkungan yang membuat informan
cukup sulit memperolehnya. Hal ini pun berkaitan dengan seberapa penting
informasi bagi dirinya. Lingkungan sosial yang menganggap bahwa informasi
tentang pemilihan bupati
adalah sesuatu yang penting dan informasi tersebut adalah kebutuhan, maka
informan yang berada dalam lingkungan ini akan berupaya untuk mengakses setiap
perkembangan tentang pemilhan Bupati.
2.
Kelompok Sosial
Secara sosiologis, masyarakat terbagi
dalam beberapa kelompok-kelompok sosial yang dapat dikategorikan. Pengelompokan
soasial ini sangat berpengaruh terhadap pilihan-pilihan politik masyarakat.[53] Proses sosialisasi yang
berlangsung panjang membuat pemilih kaum muda mengidentifikasikan dirinya
berdasarkan kelompok sosialnya. Dalam kelompok-kelompok sosial seperti kelompok
kategorial laki-laki dan kaum muda, kelompok berdasarkan pekerjaan, status
sosio ekonomi, kelompok etnis yang meliputi ras, agama dan daerah asal, setiap
individu akan mengalami proses sosialisasi
berdasarkan kelompok sosialnya.
Salah seorang informan yang bernama Saini mengatakan,
pilihan politik kaum muda sekarang lebih cenderung mengikut dengan teman-teman
bergaulnya, karena mereka selalu bersama-sama dan sering mengikuti sosialisasi
politik dengan sama-sama.[54]
Dari pernyataan diatas menunjukkan bahwa pergaulan
diasusmsikan sebagai kelompok sosial dalam mendapatkan informasi dan
gagasan-gagasan. Seperti yang diungkapkan oleh Saini, bahwa kaum muda akan
mengikut dengan pilihan politik orang terdekat yang berada disekitarnya.
Selain itu juga, seorang informan laki-laki yang
bernama Aman salah seorang warga di Kelurahan Lappa, mengakui ikut
berpartisipasi dalam pemilihan bupati tahun 2013. Waktu diwawancarai Aman
mengatakan perilaku politik kaum muda juga sebagian mengikuti kepada orang
terdekatnya, contohnya orang tua atau keluarga terdekat.[55]
Pendapat diatas menunjukan, keluarga diasumsikan
sebagai kelompok sosial terkecil tapi intens dalam hal interaksi dan proses
penerimaan informasi dan gagasan-gagasan. Seperti yang diungkapkan sebelumnya
oleh Aman, bahwa kaum muda biasanya mengikut dengan pilihan politik orang-orang
dekat yang berada di sekitarnya. Dalam kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai
yang terpahami oleh anggota kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari
pemahaman memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota
kelompok lainnya. Hal ini juga melibatkan proses-proses dan peristiwa historis
yang bertautan dengan nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut.
Dalam
kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai yang terpahami oleh anggota
kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari pemahaman memiliki latar
belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota kelompok lainnya. Hal ini juga
melibatkan proses-proses dan peristiwa historis yang bertautan dengan
nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut. Pada dasarnya, proses sosialisasi
dalam kelompok-kelompok sosial melibatkan proses transmisi nilai-nilai yang
terpahami oleh kelompok tersebut terhadap anggotanya.
Jadi
pilihan politik kaum muda biasanya akan sangat terpengaruh dengan proses sosialisasi dan
perolehan pengetahuan dari kelompoknya, dan itu sangat berkaitan dengan dimensi
psikologis pemilih kaum muda.
3.
Kesadaran Politik Kaum Muda
Kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara sudah banyak
mempengaruhi keinginan bahwa mereka harus mensukseskan pemilihan Bupati tahun
2013 yang diselanggarakan untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.
Kenyataan ini menyebabkan kaum muda ikut serta dalam pemilihan Bupati tahun
2013. Kesadaran ini karena adanya kebajiban inilah yang membuat mereka ikut
serta dalam pemilihan bupati di Kabupaten Sinjai khususnya di Kecamatan Sinjai
Utara.
Seorang kaum muda yang bernama Anwar[56],
mengatakan bahwa kebanyakan kaum muda sekarang telah sadar akan pentingnya ikut
memilih dalam pemilihan bupati tahun 2013, khususnya pemuda di Kecamatan Sinjai
Utara Kabupaten Sinjai. Anwar adalah salah satu pemuda yang tinggal di
Kelurahan Bongki yang berada di Kecamatan Sinjai Utara.
Dengan keikutsertaan kaum muda dalam pemilihan bupati,
akan membuat mereka lebih banyak mengetahui masalah politik dan memingkatkan
pemikiran mereka apa lagi yang berhubungan dengan maslah politik dan akan
mempengaruhi perilaku politik mereka khususnya kaum muda.
4.
Kepentingan
Dalam menjatuhkan pilihan politik, faktor kepentingan
merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh. Umumnya informan mengungkapkan
bahwa hal yang mempengaruhi pilihan politiknya adalah faktor kepentingan. Ini
menjadi sangat beralasan sebab pemilih kaum muda akan lebih memilih sesuatu
yang paling dekat dengan apa yang dibutuhkan dan realistis dalam menjatuhkan
pilihan politiknya.
Salah seorang informan yang bernama Fajar yang juga
seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu Universitas di Makassar dan
merupakan warga Kelurahan Bongki mengatakan, kaum muda sekarang memilih karena
adanya kepentingan yang hendak dicapai.[57]
Pendapat diatas bagi peneliti wajar-wajar saja karena
setiap orang yang memilih pasti ada kepentingan yang ingin raih baik itu
bersifat positif maupun negetif. Karena ini lah yang mendorong kaum muda maupun
masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara untuk turut berpartisipasi dalam pemilihan
Bupati tahun 2013.
Seorang informan kaum muda yang berlatar belakang
sebagai pekerja bangunan dan merupaka warga Kelurahan Biringere, yaitu Edi
waktu diwawancarai mengungkapkan bahwa pilihannya terhadap salah seorang
kandidat karena didasarkan oleh janjinya untuk memperbaiki sarana dan prasarana
di Kecamatan Sinjai Utara.[58]
Pendapat diatas menjelaskan tentang kepentingan seseorang
untuk memilih kandidat karena didasari dengan janji yang telah diberikan kepada
kaum muda yang ingin memilih dan kaum mudanya juga pasti memiliki kepentingan
yang tersembunyi dengan tereaslisasinya atau dengan menangnya kandidat yang
mereka dukung dan bisa mengkabulkan kenginananya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku politik kaum muda merupakan salah satu produk
sosial yang tidak hadir dengan sendirinya. Terdapat banyak faktor-faktor sosial
yang mempengaruhi perilaku dan pilihan
politik kaum muda.
Berdasarkan
dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab III maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1.
Kaum muda menjatuhkan pilihan
politiknya berdasarkan informasi yang dia terima, dimana pilihan politik ini
juga ternyata berkorelasi dengan kondisi lingkungan dimana kaum muda itu
tinggal. Hal ini membuat pilihan politik tiap kaum muda berbeda-beda. Terdapat
kaum muda yang menggunakan hak pilihnya berdasarkan informasi dan pengetahuan
yang diperoleh tentang profil kandidat serta visi dan misinya, akan tetapi juga
terdapat kaum muda yang menggunakan hak pilihnya meski dengan pengetahuan yang
sangat minim tentang profil kandidat juga visi dan misinya.
2.
|
62
|
Selain itu, kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara sangat
kritis dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Walaupun ada sebahagian kaum muda
yang tidak bersungguh-sungguh dalam pemilihan Bupati tahun 2013. Kaum muda juga
sekarang sangat sportiv dalam Pemilihan Bupati tahun 2013, walaupun pilihannya
ternyata kalah dalam dalam pemilihan, akan tetapi mayoritas dari kaum muda akan
tetap menerima hasil pemilihan Bupati tahun 2013 tanpa adanya benturan-benturan
karena kelahnya kandidat yang mereka dukung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih kaum muda
di Kecamatan Sinjai Utara antaranya adalah:
1.
Faktor sosialisasi politik
Sosialisasi politik adalah suatu proses
untuk mengendalikan atau untuk mempengaruhi pilihan politik seseorang dan
menetukan persepsi serta reaksi terhadap gejala-gejala politik. Dalam pemilihan
bupati tahun 2013 Kecamatan Sinjai Utara manyoritas kaum muda mendapatkan
banyak pengetahuan informasi tentang kandidat yang maju dalam pemilihan Bupati
tahun 2013 melalui media massa, teman pergaulan, dan bahkan dari elit-elit
Kelurahan yan secara tidak langsung memberikan informasi tentang kandidat
tertentu. Dengan informasi yang meraka dapatkan kaum muda di Kecamatan Sinjai
Utara.
2.
Kelompok Sosial
Kaum muda biasanya mengikut dengan pilihan politik orang-orang dekat yang
berada di sekitarnya. Dalam kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai yang
terpahami oleh anggota kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari
pemahaman memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota
kelompok lainnya. Hal ini juga melibatkan proses-proses dan peristiwa historis
yang bertautan dengan nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut. Pada
dasarnya, proses sosialisasi dalam kelompok-kelompok sosial melibatkan proses
transmisi nilai-nilai yang terpahami oleh kelompok tersebut terhadap
anggotanya. Jadi pilihan politik kaum muda biasanya akan sangat terpengaruh
dengan proses sosialisasi dan perolehan pengetahuan dari kelompoknya, dan itu
sangat berkaitan dengan dimensi psikologis pemilih kaum muda.
3.
Kesadaran
Politik Kaum Muda
Kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara telah mulai banyak
telah mengetahui banyak mengenai politik khususnya dalam pesta demokrasi, kaum
muda sekarang telah cerdas dan pintar dalam melakukan hak pilihnya dan
mengetahui begitu pentingnya ikutserta dalam pemilihan Bupati tahun 2013. Hal
ini akan membawa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai dapat mensukseskan
pemilihan Bupati Tahun 2013.
B. Saran
Pemilihan
Bupati tahun 2013 adalah pemilihan Umum
demokratis yang dilakukan bangsa ini.
Harus diakui masih banyak kekurangan. Pemilu masih dipandang secara pesimistis
oleh banyak kalangan karena dianggap belum mampu memberikan perubahan apa-apa
terutama dalam peningkatan taraf hidup/kesejahteraan masyarakat. Pemilu
Legislatif, meski telah berlangsung dengan suara terbanyak dalam menentukan
siapa-siapa kandidat
yang akan menduduki jabatan sebagai
Bupati, namun prosesnya masih sangat konvensional. Pemilih
kita masih banyak terjebak pada habituasi pilihan-pilihan lamanya terutama bagi
pemilih kaum muda apalagi pemilih kaum muda yag berdomisili di daerah/wilayah
pinggiran.
Dalam
melakukan penelitian ini terdapat berbagai saran yang akan disampaikan oleh
peneliti antaranya adalah:
1.
Peningkatan akses informasi dan
perluasan informasi mengenai proses Pemilu Bupati Tahun 2013 secara sistematis
perlu dilakukan untuk mampu menjangkau pemilih-pemilih kaum muda yang berada di
daerah pinggiran dan dari berbagai kalangan dan lapisan sosial. Baik
sosialisasi melalui media cetak, audio atau audio visual, semina-seminar
politik serta penyuluhan politik.
2.
Mengingat pemilih kaum muda berasal dari kondisi sosial yang
berbeda-beda, dengan tingkat pendidikan yang tidak sama dan hal ini sangat
berkorelasi dengan akses informasi terhadap proses politik, maka seyogyanya
pemerintah maupun pihak-pihak seperti LSM dapat memberikan bentuk pendidikan
politik yang bersifat menyeluruh dan persuasif, sehingga pemilih kaum muda
dapat mengetahui proses politik dengan lebih jelas.
3.
Pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas-fasilitas yang
dapat mendukung kegiatan pemilihan dalam dunia politik, serta pemberian
pendidikan politik yang ditujukan khusus untuk kaum muda untuk berpartisipasi
dalam dunia perpolitikan.
DAFTAR PUSTAKA
Asfar, M. Pemilu dan Perilaku Memilih 1955-2004.
Surabaya: Pustaka Utama. 2004.
Aminah, Sitti. Skripsi, Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Islam
Terhadap Pembangunan Karater Anak di SD. Inpres Bertingkat Layang Kecamatan
Bontoala Kota Makassa.,Unismuh, 2011.
Badan Pusat
Statistik Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai
Utara Dalam Angka 2012. Kabupaten Sinjai, 2012.
Budiarjo, Mariam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Bungin, Burhan. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, 2009.
Cangara, Hafied. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2011.
Gatara,
A.A. Sahid. Ilmu Politik Memahami dan Menerapkan. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Gaus,
Gerald F dan Chandran Kukathas. Handbook Teori Politik.
Bandung: Nusa Media, 2012.
Jurdi, Syarifuddin. Panduan
Penulisan Skripsi Jurusan Ilmu Politik Uin Alauddin. Makassar: UIN Alauddin, 2012.
Maran, Rafael
Raga. Penghantar
Sosiologi Politik. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Marsuki, Muhammad Sholeh, Skripsi. Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin dalam Perspektif Khittah Muhammadiyah.Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogjakarta, 2009.
Mufti,
Muslim. Teori-Teori Politik. Bandung:
Pustaka Setia, 2012.
Nasution, Fera Hariani, Skripsi. Perilaku Pemilih Pada Pemilihan
Gabernur Sumatera Utara Secara Langsung di Kabupaten Labuhan Batu Studi Kasus:
di Kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhan Batu,Universitas
Sumatra Utara. Medan, 2009.
Nursal,
Adman. Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Umum, 2004.
Ramlan,
Surbakti. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo,
1999.
Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadikma Ganda. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.
Ritzer, George dan Douglas J.Goodman. Teori
Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media, 2003.
Soekanto, Soerjono.
Penghantar Penelitian
Sosial.
Jakarta: UI Press, 1986.
Varma,
SP. Teori Politik Modern. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.
Verawati R. L, Cice, Skripsi. Perilaku Pemilih Kaum muda Pada
Pemilu Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara. Universitas
Hasanuddin Makassar, 2011.
http://www.sinjaikab.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=73&Itemid=472, diakses pada Tanggal 3 juli 2013, pukul 21.00.
http://www.sinjaikab.go.id/v1/statis-7-geografis.html. Diakses pada
tanggal 3 Juli 2013, pukul 20.22.
[1] Hafied Cangara, Komunikasi politik: Konsep, Teori, dan
Strategi (Cet.ke-3; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2011), hal. 165.
[3] Syarifuddin Jurdi, Panduan Penulisan Skripsi Jurusan Ilmu
Politik Uin Alauddin (Makassar: UIN Alauddin, 2012), hal. 11-12.
[4] Fera
Hariani Nasution, “Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Gabernur Sumatera Utara Secara
Langsung di Kabupaten Labuhan Batu (Studi Kasus: di Kelurahan Bakaran Batu,
Kabupaten Labuhan Batu)”, Skripsi Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009.
[5] Muhammad
Sholeh Marsuki, “Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin
dalam Perspektif Khittah Muhammadiyah”, Skripsi, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogjakarta, 2009.
[6] Cice
Verawati R. L, “Perilaku
Pemilih Perempuan Pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara”, Skripsi,
Universitas
Hasanuddin Makassar, 2011.
[15] George Ritzer &
Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 356.
[26] Ibid., hal. 124.
[27]http://www.sinjaikab.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=73&Itemid=472, diakses pada Tanggal 3 juli 2013, pukul 21.00.
[28] http://www.sinjaikab.go.id/v1/statis-7-geografis.html, Diakses pada tanggal 3 Juli
2013, pukul 20.22.
[30] Badan Pusat Statistik
Kabupaten Sinjai, Kecamatan
Sinjai Utara Dalam Angka 2012,
Kabupaten
Sinjai, 2012, hal. 1.
[31] Badan Pusat Statistik
Kabupaten Sinjai, Kecamatan
Sinjai Utara Dalam Angka 2012,
Kabupaten
Sinjai,
2012, hal. 2.
[32] Badan Pusat Statistik
Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai Utara
Dalam Angka 2012,
Kabupaten
Sinjai,
2012, hal. 3.
[33] Hisbullah
Mus, Kepala Kelurahan Alehauwae ,
Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara,
Tanggal 26 Agustus 2013.
[34] Akbar
Andi Mappa, Sekertaris Kelurahan Bongki, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 28
Agustus 2013.
[35]As’ad Mustamin, BA, Kepala
Kelurahan Lamatti Rilau, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 27 Agustus 2013.
[36] A.Manggalatung Lamatti, Kepala
Kelurahan Balang Nipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, 28 Agustus 2013.
[38]A.Muliati
Anwar, Kepala Kelurahan Biringere, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 27 Agustus 2013.
[39]Rusli, Warga Kelurahan Alehauwae,Wawancara di
Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 29
Agustus 2013.
[42]Awaluddin,
Warga Kelurahan Alewahuwae, Wawancara
di Kecamatan Sin jai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[43]Haris, Warga Kelurahan Balang Bipa, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[44]Muhammad
Taufik, Warga Kelurahan Lamatti Rilau, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[46]Iccang, Warga Kelurahan Lappa, Wawancara di
Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[47]Risal, Warga Kelurahan Biringere, Wawancara di
Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[48] Zainal, Warga Kelurahan Balang
Nipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[51]Karim dan
Temmang, Warga Kelurahan Alehauwae, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[52]Ilham, Mahasiswa STAI
Muhammadiyah Sinjai, salah
seorang pemuda berasal dari Kelurahan Balang Nipa, Wawancara
di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[53] Nursal, Adman, Political
Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu,
(Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Umum, 2004), hal. 55.
[56]Anwar, Warga Kelurahan Bongki,Wawancara di
Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 31 Agustus 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar