Selasa, 22 Oktober 2013

skripsi terbaru ilmu politik

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Reformasi telah membawa tuntutan yang besar kepada perubahan sistem dan kehidupan politik di indonesia, masyarakat sendiri masih mempunyai kapasitas yang relatif rendah untuk bisa melayani segala perubahan tersebut.
Bagi suatu negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi maupun yang sedang membangun proses demokratisasi, partai politik menjadi sarana demokrasi yang bisa berperan sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintah.[1]
Perpolitikan juga pada saat ini telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia yang semakin kian terbuka dan transparan. Setelah orde baru tumbang, kini Indonesia secara dramatis telah melangkah ke tahapan demokrasi, perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi seperti dari segi pranata, legal, dan institusional. Kita telah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, Suatu ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat dibutuhkan dapat dilembagakan secara berkala dan regular.
1
Pemilihan umum adalah suatu proses dari sistem demokrasi, hal ini juga sangat penting dalam kehidupan bernegara. Dalam pemilihan umum, rakyat berperan penuh untuk memilih siapa wakilnya yang layak menduduki parlemen dan struktur pemerintahan. Sistem politik di Indonesia sendiri telah menggunakan hak rakyat dalam pemilihan presiden dan kepala daerah, dimana telah dilaksanakan sembilan tahun yang lalu.
Dalam pemilihan kepala daerah seperti gubernur dan bupati/walikota sejak Indonesia merdeka hanya dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat, maka menurut ketentuan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 harus dilakukan pemilihan langsung.[2]
Selain itu, perilaku politik seseorang itu bisa berbeda-beda. Beberapa hal yang telah dijelaskan diatas merupakan beberapa bentuk dari perilaku politik individu. Ikut serta dan bergabung dalam partai politik juga merupakan bantuk dari perilaku politik. Hal ini dikarenakan bahwa partai politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara dan menjalankan kebijakan-kebijakan untuk negara. Perilaku pemilih dalam Pilbup itu sangat penting, dikarenakan apabila pelaksanaan Pilbup itu berjalan sukses, maka tentu saja perilaku pemilih itu sukses juga.
Perilaku politik dan partisipasi politik pemilih merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Perilaku politik pemilih merupakan aspek penting dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan suatu pemilihan umum. Di dalam penelitian ini yang ingin ditekankan ialah bagaimana perilaku politik kaum muda dalam pemilihan bupati.
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) telah jalankan di Kabupaten Sinjai, salah satunya adalah pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati yang di laksanakan pemilihan pada bulan Mei 2013, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) ini diharapkan dapat membawa masyarakat Kabupaten Sinjai ke arah yang lebih demokratis. Pesta demokrasi ini sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Sinjai, baik dari desa terpencil maupun kota.
Pada penelitian ini, penulis memfokuskan perilaku politik kaum muda dalam pemilihan bupati (Pilbup) tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Selain itu, peneliti juga menelusuri hal-hal yang mendasari dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik kaum muda tersebut. Kaum muda adalah sebagai warga negara berhak untuk ikut dan berpartisipasi dalam setiap pemilihan umum, khususnya pemilihan bupati di kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Kaum muda adalah salah satu generasi penerus masa depan. Tingkat pemikiran dan ideologi mereka lebih kritis dibandingkan dengan kaum tua. Hal ini sangat terlihat di setiap pemilihan umum, sasaran utama para kandidat adalah kaum muda.
Sebagai bagian dari komponen bangsa, kaum muda tidak dapat melepaskan diri dan menghindar dari politik. Oleh karena hakikat manusia, termasuk kaum muda adalah zoon politicon atau mahluk politik. Keberadaan dan kiprah manusia termasuk kaum muda merupakan bagian dari produk politik dan terlibat langsung maupun tidak langsung, nyata maupun tidak nyata dalam kehidupan politik.
Peran politik kaum muda dapat dilihat dari: pertama, partisipasi politik kaum muda sebagai bagian dari sistem politik yakni dalam suprastruktur politik dan infrastruktur politik. Dalam suprastruktur politik, kaum muda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pemerintahan. Sebagai warga negara setiap kaum muda harus memahami tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara, termasuk melakukan bela negara. Dalam infrastruktur politik, kaum muda dapat berkiprah dalam kegiatan partai politik, pada kelompok kepentingan, kelompok penekan maupun kelompok anomalis. Inilah arena politik yang dapat digunakan oleh kaum muda dalam berpartisipasi secara politik.
Fenomena dan keadaan politik jelang diadakannya Pilbup ini, yang sangat nampak adalah “adu strategi” yang di lakukan oleh masing-masing kandidat. Setiap kandidat memiliki strategi khusus dan tersendiri untuk meraih simpati dan dukungan dari para pemilih khususnya kaum-kaum muda.
Dalam suatu kehidupan bernegara dan juga bermasyarakat, partisipasi kaum muda sangat dibutuhkan sebagai wujud dari kebersamaan dan keikutsertaan dalam proses politik tersebut. Partisipasi politik pada dasarnya adalah aspek penting dalam negara demokrasi dan juga menjadi penanda adanya modernisasi politik.
Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan hasil penelitian ini dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Perilaku Politik Kaum Muda dalam Pilbup Tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.”
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pokok permasalahan yang perlu mendapat gambarkan yang jelas yaitu: “bagaimana perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai ?”
C.       Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan memperoleh informasi yang akurat sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan, adapun tujuan penelitian sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun 2013 di kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Adapun manfaat penelitian sebagai berikut :
1.         Akedemis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pengembangan teori ilmu politik, khususnya perilaku politik.
b.        Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk peneliti selanjutnya.
2.         Praktis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat memperjelas tentang perilaku politik dalam pembangunan perpolitikan di Indonesia.
b.        Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman para aktor politik tentang perilaku politik yang terjadi di Indonesia khususnya Kabupaten Sinjai.



D.      Telaah Pustaka
Telaah pustaka memuat hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, dengan maksud untuk menghindari duplikasi. Di samping itu, untuk menunjukkan bahwa topik yang diteliti belum pernah diteliti oleh peneliti lain dalam konteks yang sama serta menjelaskan posisi penelitian  yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Dengan kata lain, tinjauan pustaka bertujuan untuk meletakkan posisi penelitian diantara penelitian-penelitian yang telah ada.[3]
Studi tentang perilaku politik sudah banyak diterbitkan dan ditemukan, namun sampai saat ini belum ada yang membahas tetang perilaku politik dalam Pilbup di Kabupaten Sinjai. Selain itu, lokasi dan tempat penelitian berbeda dengan skripsi-skripsi yang telah ada. Adapun beberapa buku referensi dan karya ilmiah yang berkaitan dengan perilaku politik adalah:
Fera Hariani Nasution[4], dari skripsinya yang berjudul “Perilaku Pemilih  Pada Pemilihan Gabernur Sumatera Utara Secara Langsung di Kabupaten Labuhan Batu (Studi Kasus: di Kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhan Batu”, dari Universitas Sumatera Utara. Dalam skripsinya mengatakan dalam Pilkada secara langsung di Kabupaten Labuhan Batu khususnya Bakaran Batu berlangsung dengan sportiv, masyarakat kelurahan Bakaran Batu tidak terpengaruh dengan isu Suku, Agama, Ras, dan Politik Uang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Fera Hariani Nasution menunjukan bahwa dalam Pilkada secara langsung di Kabupaten Labuhan Batu Kelurahan Bakaran Batu, terdapat hubungan yang cukup kuat antara orientasi kandidat dan orentasi isu dengan perilaku pemilih.
Muhammad Sholeh Marsuki,[5] dalam skripsinya berjudul Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin dalam Perspektif Khittah Muhammadiyah, dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Muhammad Sholeh Marsuki mengatakan bahwa Perilaku politik praktis yang telah dilakukan oleh Din Syamsuddin adalah merupakan peran induvidu, yang sangat terkait erat dengan kelembagaan yang dipimpinnya yaitu Muhammadiyah. Muhammadiah secara jelas menolak perilaku politik praktis yang dilakukan oleh kadernya yang membawa nama Muhammadiyah kedalam ranah politik praktis. Kittah Muhammadiayah yang dirumuskan dalam berbagai format sejak tahun 1956-2002 merupakan formulasi dari posisi dan peran Muhammadiyah yang sejak awal kelahirannya hingga perkembangannya merupakan organisasi yang bergerak dibidang dakwah dan bukan bergerak dalam wilayah politik praktis.
Cice Verawati R. L.[6] Dalam skripsinya yang berjudul “Perilaku Pemilih Kaum muda Pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara” dari Universitas Hasanuddin Makassar, mengatakan perilaku politik kaum muda dalam hal ini pilihan politik kaum muda, kerangka konseptual dimasukkan teori pilihan rasional serta pendekatan sosiologis dan psikologis dalam melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik kaum muda. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemilihan legislatif tahun 2009 di Kabupaten Kolaka Utara, kondisi tiap kaum muda tidaklah sama. Terdapat kaum muda yang menggunakan hak pilihnya berdasarkan informasi dan rasionalitas. Selain itu terdapat pula kaum muda yang menggunakan hak pilihnya tapi memiliki informasi yang sangat minim terhadap pemilihan ini. Pilihan politik kaum muda dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, proses sosialisasi dan kepentingan juga mempengaruhi pilihan politik kaum muda.
Dari beragam tinjauan pustaka diatas masih banyak pustaka yang belum disebut disini, terutama pustaka yang membahas tentang perilaku politik secara umum. Namun yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang akan difokuskan dalam penelitian ini, kiranya sudah memadai, sungguh demikian pustaka yang disebut diatas jelas belum ada yang khusus membicarakan perilaku politik kaum muda dalam Pilbup. Maka peneliti akan membahas tentang perilaku politik kaum muda dalam Pilbup tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Hal ini karena pada zaman modernisasi ini, tingkat pemikiran kaum muda mulai kritis dalam melakukan sesuatu, apalagi dalam pengambilan keputusan politik. Kaum muda sekarang telah memiliki pemahaman yang tinggi tentang pemilihan umum khususnya kaum muda di kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Sehingga penulis yakin bahwa skripsi yang akan dibahas ini belum ada duplikat dengan buku atau karya ilmiah lainnya. Namun tinjauan pustaka diatas penulis akan menjadikan bahan perbandingan dalam skripsi ini.


E.       Kerangka Teori
Bagian ini merupakan unsur yang paling penting dalam penelitian, karena pada bagian ini peneliti mencoba menjelaskan fenomena yang sedang diamati dengan mengunakan teori-teori yang relevan dengan penelitiannya.
Menurut Masri Singarimbun dan Sofian Effendi dalam buku Metode Penelitian Sosial mengatakan, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, kontrak, definisi dan preposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.[7]
1.        Perilaku Politik Pemilih
Perilaku politik dan pilihan merupakan adalah sebuah konstruksi sosial, sehingga untuk memahaminya diperlukan dukungan konsep dari berbagai berbagai disiplin ilmu. Dalam menganalisis hal tersebut, maka banyak variabel yang perlu diperhatikan dalam konteks sosial yang sangat dinamis. Mulai dari variabel ekonomi, psikologi sosial, konsep sosiologis geopolitik dan sebagainya. Berbagai disiplin ilmu atau berbagai variabel digunakan secara menyeluruh dan integral.
Pendekatan perilaku sendiri muncul dan berkembang dalam masa sesudah Perang Dunia II. [8] Ramlan Surbakti dalam bukunya memahami ilmu politik mengatakan bahwa perilaku politik itu merupakan suatu kegiatan ataupun aktivitas yang berkenaan ataupun berhubungan langsung dengan proses politik, baik itu dalam pembuatan keputusan politik sampai kepada pelaksanaan aktivitas politik secara periode.[9]
Selain itu, perilaku politik adalah  tindakan atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam kegiatan politik, mengemukakan bahwa perilaku politik adalah sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan keputusan politik.
Perilaku politik  meliputi tanggapan internal seperti persepsi, sikap, orientasi dan keyakinan serta tindakan-tindakan nyata seperti pemberian suara, protes, lobi dan sebagainya. Persepsi politik berkaitan dengan gambaran suatu obyek tertentu, baik mengenai keterangan, informasi dari sesuatu hal, maupun gambaran tentang obyek atau situasi politik dengan cara tertentu. Sedangkan sikap politik adalah merupakan hubungan atau pertalian diantara keyakinan yang telah melekat dan mendorong seseorang untuk menanggapi suatu obyek atau situasi politik dengan cara tertentu.  Sikap dan perilaku masyarakat dipengaruhi oleh proses dan peristiwa historis masa lalu dan merupakan kesinambungan yang dinamis. Peristiwa atau kejadian politik secara umum maupun yang menimpa pada individu atau kelompok masyarakat, baik yang menyangkut sistem politik atau ketidak stabilan politik, janji politik dari calon pemimpin atau calon wakil rakyat yang tidak pernah ditepati dapat mempengaruhi perilaku politik masyarakat.
Kaum muda dalam suatu masyarakat akan berinteraksi dan berada dalam konteks lingkungan yang mencakup orientasi-orientasinya. Orientasi itu didasarkan pada keinginan, karakter dan tujuan-tujuannya. inilah yang kemudian membentuk pilihan-pilihan politik yang akan terpola dalam waktu yang lama, ataupun secara temporer dapat berlaku tergantung pada sejauh mana sesorang maupun lembaga politik mampu menerjemahkan menerima dan menerjemahkan kepentingan-kepentingan mereka.
Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu[10]. Dari bermacam-macam kegiatan dalam sistem politik, terdapat tujuan-tujuan yang ingin dicapai, terdapat berbagai keinginan, cara dan juga pilihan- pilihan yang dihadapkan dalam suatu sistem politik. Sehingga dapat dikatakan bahwa, pilihan politik merupakan faktor-faktor yang menentukan alternatif keputusan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan, baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat.[11]
Perilaku politik seseorang dapat dilatarbelakangi oleh banyak hal, setiap orang memiliiki pertimbangan dan alasan untuk menjatuhkan sebuah pilihan politik terhadap objek-objek politik yang mereka hadapi. Mulai dari unsur kepentingan yang dimungkingkan dapat terakomodasi, pengaruh sosial politik yang ada di sekitar termasuk peristiwa-peristiwa dan media massa, dan juga orientasi primordialisme dan sebagainya.
Selanjutnya perilaku politik juga dibagi menjadi dua, yakni perilaku politik lembaga-lembaga dan para pejabat pemerintah, dan perilaku politik warga negara biasa (baik induvidu maupun kelompok). Yang pertama bertanggungjawab membuat, melaksanakan, dan menegakakan keputusan politik, sedangkan yang kedua tidak berwenang seperti yang pertama tetapi berhak mempengaruhi pihak pertama dalam pelaksanaan fungsinya karena apa yang dilakukan pihak pertama menyangkut kehidupan pihak kedua.[12]
Setiap individu kaum muda maupun kaum tua memiliki hak untuk ikut serta tanpa kecuali. Demokrasi sebagai proses yang berkesinambungan meniscayakan persamaan dan kesetaraan, kesempatan yang terbuka bagi semua orang. Dalam konteks negara kebangsaan, sistem masa lalu yang sangat sentralistik telah digeser ke dalam sistem yang lebih demokratis. Runtuhnya resim orde baru pada tahun 1998, ditandai dengan masuknya era reformasi, masa ini adalah masa pembaharuan disemua dimensi kehidupan. Tidak terkecuali dalam sistem politik yang dulu sangat sentralistik dan terpusat, kemudian digeser ke sistem federalis.
Pemilih diartikan sebagai pihak atau individu yang menjadi tujuan utama para kontestan untuk mempengaruhi mereka dan meyakinkan mereka agar mendukung dan memilih kontestan politik yang bersangkutan. Pemilih dalam hal ini merupakan konstituen mapun masyarakat pada umumnya. Lomasky di dalam analisis Ramlan Surbakti menyebutkan bahwa keputusan untuk memilih yang terjadi selama pemilihan umum merupakan perilaku yang ekspansif ataupun perilaku yang terjadi hanya pada saat-saat tertentu saja.[13] Bisa kita tarik kesimpulan bahwa perilaku pemilih yang demikian rupanya hampir sama dengan perilaku dukungan suporter. Inilah yang menjadi permasalahan ketika banyaknya pemilih yang cenderung perilaku politiknya termanifestasi pada satu poin tertentu, bisa itu karena adanya suatu keterkaitan si pemilih dengan si calon atau kandidat.
Perilaku politik kaum muda dan juga pilihan-pilihan politiknya, dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan lingkungan politik yang merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi yang panjang, ada berbagai transfer nilai-nilai dalam kelompok dan lingkungan sosial ini. Lingkungan sosial pemilih kaum muda juga menyediakan berbagai informasi-informasi yang berkaitan dengan bangunan kognisinya. Hal inilah yang nantinya akan berpengaruh terhadap perilaku politik kaum muda dan pilihan-pilihan politiknya.
Perilaku pemilih dapat dianalisis dengan tiga pendekatan yaitu:[14]
a.         Pendekatan Sosiologis.
Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh-pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku politik seseorang. Karakteristik sosial seperti pekerjaan, pendidikan sampai karakteristik sosiologis seperti agama, wilayah, jenis kelamin, umur dan sebagainya merupakan bagian-bagian dan faktor-faktor penting dalam menentukan pilihan politik. Singkat kata pengelompokan sosial seperti umur, jenis kelamin, agama dan semacamnya dianggap mempunyai peranan yang cukup menentukan dalam membentuk pengelompokan seseorang. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat vital dalam memahami perilaku politik seseorang.
Pendekatan sosiologis melihat bahwa dalam kelompok-kelompok sosial, terdapat kognisi sosial tertentu yang pada akhirnya bermuara pada perilaku dan pilihan tertentu. Dalam kelompok-kelompok sosial, berlangsung proses sosialisasi. Lingkungan sosial memberikan bentuk-bentuk sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai dan norma dalam masyarakat, serta memberikan pengalaman hidup.
b.         Pendekatan Psikologis.
Pendekatan ini menggunakan konsep psikologis terutama konsep sosialisasi dan sikap untuk menjelaskan perilaku pemilih. Variabel-variabel itu tidak dapat dihubungan dengan perilaku pemilih kalau ada proses sosialisasinya. Oleh karena itu menurut pendekatan ini sosialisasilah sebenarnya yang menetukan perilaku politik seseorang. Oleh karena itu pilihan seseorang anak yang telah melalui tahap sosialisasi politik tidak jarang sama dengan pilihan politik orang tuanya. Pendekatan psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis sebagai kajian utama yaitu ikatan emosional pada suatu partai politik, orientasi terhadap isu-isu dan orientasi kepada kandidat.
Dalam pendekatan ini, sikaplah yang paling menentukan dan hal itu berawal dari informasi-informasi yang diterima seseorang. Menurut Asfar, sikap tidaklah terjadi secara begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang, yang dimulai dari kanak-kanak saat seseorang pertama kali mendapat pengaruh politik dari orang tua atau kerabat dekat.

c.         Pendekatan Rasional.
Dalam konteks pendekatan rasional, pemilih akan memilih jika ia merasa ada timbal balik yang akan diterimanya. Ketika pemilih merasa tidak mendapatkan faedah dengan memilih kandidat yang sedang bertanding, ia tidak akan mengikuti dan melakukan pilihan pada proses Pemilu. Hal ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi dan hitung ekonomi. Pendekatan ini juga mengandaikan bahwa calon bupati dan wakil bupati akan melakukan berbagai promosi dan kampanye yang bertujuan untuk menarik simpati dan keinginian masyarakat untuk memilih dirinya pada Pilbup.
Dari uraian diatas, dapat di katakan bahwa terdapat suatu nilai yang berlaku secara menyeluruh, tapi terdapat pula nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat tertentu, dan itu biasanya tidak berlaku bagi kelompok masyarakat lain. Seperti halnya pendekatan-pendekatan yang diuraikan sebelumnya tentang perilaku memilih, itu bersumber dari penelitian yang diadakan di negara-negara maju, pemilu yang berulang-ulang dan praktek demokrasi yang relatif bersih, memungkinkan teori itu memiliki validitas tinggi untuk memprediksi perilaku politik untuk pemilu-pemilu berikutnya.
2.        Teori Pilihan Rasional (Rational Choice).
Teori pilihan rasional adalah penjelasan yang mendasar dalam melihat perilaku politik kaum muda yang mencakup pilihan-pilihan politik dan berbagai hal yang mempengaruhinya. Sosiologi Perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh seorang aktor terhadap lingkungan terhadap perilaku aktor.[15]
Dalam penjelasan Ritzer & Goodman, antara perilaku aktor yakni individu dan lingkungannya, akan terjadi proses yang saling berpengaruh satu sama lain. Sebagian pemilih mengubah pilihan politiknya dari satu Pemilu ke Pemilu lainnya dan peristiwa-peristiwa politik tertentu bisa saja mengubah preferensi pilihan politik seseorang.
Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor, yang dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud tertentu, artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakanya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu.[16] Kaum muda adalah aktor atau induvidu yang memiliki tujuan dan maksud, dan tindakannya tertuju pada tujuan untuk mencapai tersebut. Dalam konteks pemilihan umum kaum muda sebagai warga negara dan sebagai induvidu dalam masyarakat tentunya memiliki tujuan dan maksud dalam momen pemilihan umum. Tindakan-tindakan kaum muda sebagai induvidu merupakan upaya untuk mencapai hal-hal yang dimaksudkan secara rasional dalam proses pelaksanaan pemilihan umum.
Teori pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa saja yang menjadi sumber pilihan aktor, yang penting disini adalah kenyataan tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan tindakan aktor.[17] Penjelasan tentang pilihan rasional seperti yang diungkapkan oleh Ritzer dan Goodman, merupakan penjelasan tentang letak rasionalitas dalam menjatuhkan pilihan yang pada dasarnya bergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Hal ini juga tidak menitik beratkan pada sumber pilihan tapi didasarkan npada tujuan yang ingin dicapai.
Kaum muda sebagai induvidu dalam proses pemilihan bupati memiliki pilihan rasional yang didasarkan pada upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tidk menitikberatkan pada sumber-sumberpilihan.lebih lanjut diungkapkan oleh James S Coleman, dalam teori pilihan rasional dengan gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah kepada suatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (presepsi).[18] James S. Coleman juga menitik beratkan pada tindakan pada tindakan perseorangan dan juga mengarah pada suatu tujuan tertentu yang mengaitkan nilai dalam hal ini adalah pilihan dan juga pereferensi. Pilihan yang didasrkan pada preferensi akan melibatkan berbagai informasi dalam suatu lingkungan sosial.
Friedmen dan Hechter mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan rasional; pertama, adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial, yang kedua adalah bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat pilihan rasional.[19] Informasi yang dimiliki oleh individu akan dikaitkan dengan kualitas dan kuantitas dari informasi tersebut dan hal ini nantinya akan mempengaruhi pilihan rasionalnya.
Pilihan rasional kaum muda juga didasarkan pada informasi yang dia terima dan dijadikan sebagai preferensi seperti yang di ungkapakan oleh James S. Coleman sebelumnya. Dalam pemilihan bupati, kaum muda adalah sebagai individu yang memiliki pilihan yang didasarkan pada rasionalitas dalam memilih. Rasionalitas dalam menjatuhkan pilihannya didasarkan pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemilih kaum muda dan dikaitkan dengan informasi dan preferensi yang dimilikinya.
Selain itu, dalam fenomena politik yang terjadi di Indonesia saat ini, seperti pemilihan umum legislatif maupun eksekutif. Ketika seseorang akan memilih kandidat saat pesta demokrasi berlangsung, ia memiliki pilihan-pilihan tertentu terhadap seorang pemimpin yang akan ia pilih nanti, pada saat itulah cost-bennefit muncul dalam dirinya. Ia akan mengetahui resiko serta keuntungan seperti apakah yang kelak ia dapatkan jika ia memilih kandidat A, atau B, dsb. Jika kandidat A hanya menjanjikan pemberian sembako gratis dalam kampanyenya, sedangkan kandidat B menjanjikan pemberian sembako, pelayananan kesehatan gratis, dan memperbaiki infrastuktur jalan yang ada di daerah si pemilih, maka dalam hal ini ia akan memikirkan keuntungan mana yang lebih dominan yang akan ia dapatkan dari kandidat. Tentu saja kandidat B karena banyak memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat.
F.       Metode Penelitian
1.        Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dimana penulis mencoba untuk meneliti atau menganalisa dengan mencoba memberikan gambaran dan penjelasan mengenai kenyataan empiris yang dijadikan objek penelitian.
2.        Penentuan Subjek dan Objek Penelitian
Penetuan subjek penelitian hendaknya mengunakan suatu kriteria tertentu. Peneliti juga perlu menjelaskan dari mana ia mulai mengumpulkan data, siapa yang menjadi informan kunci, penjelasan jika peneliti menambah sampel dan bilamana penambahan sampel dianggap cukup.[20]
Adapun yang akan menjadi informan disini adalah :
1.         Lurah, 6 orang informan
2.         Pemilih Kaum Muda, 17 orang informan
Objek penelitian adalah fokus yang akan dicari jawabannya melalui peneliti. Objek peneliti harus dirumuskan secara tajam dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalah-pahaman bagi orang lain. [21]
Adapun informan diatas adalah mereka yang banyak mengetahui dunia perpolitikan yang terjadi di Kabupaten Sinjai, khususnya Kecamatan Sinjai Utara, agar data yang didapatkan lebih valid atau lebih aktual.
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dimana penulis mencoba untuk meneliti atau menganalisa dengan mencoba memberikan gambaran dan penjelasan mengenai kenyataan empiris yang dijadikan objek penelitian.


3.        Metode Pengumpulan Data
Penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala sosial, yang bertujuan untuk mempelajari gejala sosial tersebut, dengan jalan menganalisisnya. Selain itu, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta sosial tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul dalam gejala yang bersangkutan.[22]
Pada penelitian ini penulis menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer didapat dengan melakukan teknik pengumpulan data melalui:
a.         Metode Wawancara
Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.[23] Selain itu, adalah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Merupakan suatu bentuk komunikasi verbal atau percakapan untuk memperoleh informasi. Dalam wawancara, penulis secara langsung melakukan wawancara dengan informan yang dianggap paham dan mengetahui masalah yang akan diteliti atau informan yang berkenaan dengan tema penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan mendalam atau pedoman wawancara.
b.         Studi Pustaka
Yang dimaksud studi pustaka yakni membaca sumber-sumber literatur mengenai tema yang dikaji tentang perilaku politik, kaum muda dan politik, dan teori-teori sosial yang berupa buku-buku, majalah, surat kabar dan informasi tertulis lainnya yang membahas tentang masalah ini, dimana untuk lebih memperkuat data yang dimuat didalam skripsi ini.
c.         Metode Observasi
Metode ini adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.[24] Dengan tujuan mendapatkan gambaran yang benar tentang suatu gejala sosial atau peristiwa tertentu yang ada dan terjadi pada suatu lokasi dalam suatu daerah.
Adapun sumber data sekunder diperoleh melalui teknik pengumpulan data dengan menggunakan:
a.         Metode Dokumenter
Metode ini adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metode penelitian sosial. Yang pada intinya metode ini digunakan untuk menelusuri data histori, dan sosial. Yang sebagian besar fakta data sosial tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi, seperti buku-buku, literatur, arsip atau dokumen pemerintah.[25]  
b.         Metode Online
Metode pengumpulan data online adalah tata cara melakukan penelusuran data melalui media online seperti internet atau media jaringan lainnya yang menyediakan fasilitas online, sehingga memungkinkan peneliti dapat memanfaatkan data informasi online yang berupa data maupun informasi teori, secepat atau semudah mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.[26]
4.        Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah diskriptif analisis dari hasil wawancara, peneliti akan mendeskripsikan dan menganalisis berdasarkan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini. Sehingga menjadi suatu catatan lapangan. Semua data kemudian dianalisis secara kualitatif sehingga apa yang terkandung dibalik realitas dapat diungkap.
Bagian ini juga menunjuk pada kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan-susunan tertentu dalam rangka penginterpretasian data sesuai dengan susunan sajian data yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah penelitian yang akhirnya akan disimpulkan.



BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A.       Sejarah Kabupaten Sinjai
Kabupaten Sinjai mempunyai nilai histories tersendiri, dibanding dengan Kabupaten-Kabupaten yang di Propinsi Sulawesi Selatan. Dulu terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan yang tergabung dalam federasi Tellu Limpoe dan Kerajaan – kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Limpoe.
Tellu Limpoe terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada dekat pesisir pantai yakni Kerajaan  yakni Tondong, Bulo-bulo dan Lamatti, serta Pitu Limpoe adalah kerajaan-kerajaan yang berada di daratan tinggi yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka.
Watak dan karakter masyarakat tercermin dari system pemerintahan demokratis dan berkedaulatan rakyat. Komunikasi politik di antara kerajaan-kerajaan dibangun melalui landasan tatanan kesopanan Yakni Sipakatau  yaitu Saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsep “Sirui Menre’ Tessirui No’ yakni saling menarik ke atas, pantang saling menarik kebawah, mallilusipakainge yang bermakna bila khilaf saling mengingatkan.
Sekalipun dari ketiga kerajaan tersebut tergabung ke dalam Persekutuan Kerajaan Tellu Limpo’E namun pelaksanana roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya masing-masing tanpa ada pertentangan dan peperangan yang terjadi diantara mereka.
23
Bila ditelusuri hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekeluargaan yang dalam Bahasa Bugis disebut SIJAI artinya sama jahitannya.
Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari LAMASSIAJENG Raja Lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya "PASIJA SINGKERUNNA LAMATI BULO-BULO" artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau digelar dengan PUANTA MATINROE RISIJAINA.
Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai di masa lalu semakin jelas dengan didirikannya Benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikan di Balangnipa yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Sinjai. Disamping itu, benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe, karena didirikan secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan yakni Lamatti, Bulo-bulo, dan Tondong  lalu dipugar oleh Belanda melalui perang Manggarabombang.
Tahun 1636  orang Belanda mulai datang ke daerah Sinjai. Kerajaan-kerajaan di Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya Belanda unntuk memecah belah persatuan kerajaan-kerajaan yang ada di suilawesi Selatan. Hal ini mencapai puncaknya dengan terjadinya  peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-bulo untuk melakukan peran terhadap kerajaan Gowa.Peristiwa ini terjadi tahun 1639.
Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap perpegan teguh pada PERJANJIAN TOPEKKONG. Tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda VAN DER CAPELLAN datang dari Batavia untuk membujuk I CELLA ARUNG Bulo-Bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengisinkan Belanda Mendirikan Loji atau Kantor Dagang di Lappa tetapi ditolak dengan tegas.
Tahun 1861  berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi dan Daerah, takluknya wilayah Tellulimpoe Sinjai dijadikan satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten. Tanggal 24 pebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi Celebes, dimana Sinjai bersama-sama beberapa Kabupaten lainnya berstatus sebagai Onther Afdeling Sinjai terdiri dari beberapa adat Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungeng.
Pada masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengaan  kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yakni tanggal 20 Oktober 1959 Sinjai resmi menjadi sebuah Kabupaten berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 1959.[27]





B.       Letak Geografis Kabupaten Sinjai
Kabupaten Sinjai terletak di Jazirah Selatan bagian Timur Propinsi Sulawesi Selatan dengan Ibu kotanya Sinjai. Berada pada posisi 50 19' 30" sampai 50 36' 47" Lintang Selatan dan 1190 48' 30" sampai 1200 0' 0" Bujur Timur.[28]
Disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bone, di sebelah Timur dengan Teluk Bone, di sebelah Selatan dengan Kabupaten Bulukumba, dan sebelah Barat dengan Kabupaten Gowa.
Wilayah administratif terbagi atas 9 Kecamatan, 13 kelurahan, dan 67 Desa. Luas wilayahnya   berdasarkan data yang ada, seluas  819,96 Km2 (81.996 Ha).[29]
1.         Kecamatan Sinjai Utara, 6 Kelurahan
2.         Kecamatan Sinjai Timur, 1 Kelurahan dan 12 Desa
3.         Kecamatan Sinjai Tengah, 1 Kelurahan dan 10 Desa
4.         Kecamatan Sinjai Barat, 1 Kelurahan dan 8 Desa
5.         Kecamatan Sinjai Selatan, 1 Kelurahan dan 10 Desa
6.         Kecamatan Sinjai Borong, 1 Kelurahan dan 7 Desa
7.         Kecamatan Bulupoddo, 7 Desa
8.         Kecamatan Tellulimpoe, 1 Kelurahan dan 10 Desa 
9.         Kecamatan Pulau Sembilan, 4 Desa yang merupakan wilayah kepulauan.
Berdasarkan situasi Geografis, daerah Kabupaten Sinjai beriklim Sub Tropis. Curah hujan rata-rata 2.772 sampai 4.847 milimeter dengan 120 Deep rain pertahun. Musim Hujan dimulai Februari s/d Juli dan musim panas mulai Agusutus s/d Oktober serta kelembaban mulai November s/d Januari.
Sinjai berada pada ketinggian antara 25 sampai 1.000 meter diatas permukaan laut. Luas daerah 8.1996 Ha, dengan 4,62 persen berada pada ketinggian 25 m diatas permukaan laut, 9,74 persen berada pada ketinggian 100 m diatas permukaan laut, 55,35 persen berada pada ketinggian 100 – 500 m dari permukaan laut, 21,18 persen berada pada ketinggian 500 – 1000 m dari permukaan laut dan 21,18 persen berada pada ketinggian diatas 1000 m dari permukaan laut.
Adapun Visi Kabupaten Sinjai yakni “Sinjai Religius, Cerdas, Sehat dan Sejahtera” mana kala Misinya adalah:
1.          Meningkatkan kualitas kehidupan beragama.
2.         Meningkatkan kesempatan memperoleh pendidikan dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.
3.         Meningkatkan pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat.
4.         Mewujudkan penyelenggaraan Pemerintah Daerah yang sehat melalui tata kelola pemerintahan yang baik.
5.         Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat berbasis kerakyatan yang berwawasan lingkungan.
6.         Meningkatkan infrastruktur perdesaan dan perkotaan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi daerah.
C.       Gambaran Singkat Kecamatan Sinjai Utara
Kecamatan Sinjai Utara adalah salah satu dari 9 Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Sinjai. Jumlah penduduk di Kecamatan Sinjai Utara lebih kurang 44.068 jiwa.
Kecamatan Sinjai Utara ini terdiri dari 6 kelurahan yaitu :
1.         Kelurahan Alewanuae
2.         Kelurahan Biringere
3.         Kelurahan Lamatti Rilau
4.         Kelurahan Bongki
5.         Kelurahan Balangnipa
6.         Kelurahan lappa
Di Kecamatan Sinjai Utara terdapat satu kelurahan yang terletak di persisir pantai yaitu Kelurahan Lappa dimana ketinggian dari permukaan air laut lebih kurang 1 meter, dan luas 3,95 (km2) dengan jarak 3 kilometer (Km) dari Ibu Kota Kecamatan.
Adapun 5 (lima) Kelurahan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara masing-masing terletak bukan pinggir pantai dimana lebih kurang 71 meter dari permukaan air laut. Selain itu kelurahan Balang Nipa adalah salah satu tempat dimana pusat pemerintahan Kabupaten Sinjai, karena letak goegrafisnya yang mendukung untuk segala sistem pemerintahan dan kantor-kantor istansi.
Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:


Tabel 1.1
Letak dan Klasifikasi Tiap Kelurahan Keadaan Akhir Tahun 2011

NO
KELURAHAN
LETAK KELURAHAN
KLASIFIKASI KELURAHAN
PANTAI
BUKAN PANTAI
SWA-DAYA
SWA-KARYA
SWA-SEMBADA
1
Alewanuae
-
-
-
2
Biringere
-
-
-
3
Limatti Rilau
-
-
-
4
Bongki
-
-
-
5
Balangnipa
-
-
-
6
Lappa

-
-
SINJAI UTARA
1
5
-
6
-
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[30]

Tabel 1.2
Luas Desa, Jarak Dari Ibukota Kecamatan dan Kabupaten Serta Ketinggian dari Permukaan Laut

NO
KELURAHAN
LUAS ( )
J A R A K  D A R I (Km)
KETINGGIAN DARI PERMUKAAN AIR LAUT (METER)
IBUKOTA KECAMATAN
IBUKOTA KABUPATEN
1
Alewanuae
5,35
4,5
4
± 120
2
Biringere
6,27
1,5
1
±71
3
Lamatti Rilau
7,02
5
5,5
±126
4
Bongki
4,81
1
1
±71
5
Balangnipa
2,17
0
0
±8
6
Lappa
3,95
3
2,5
±1
SINJAI UTARA
29,57
***
***
***
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[31]

a.         Jumlah Penduduk Kecamatan Sinjai Utara
Dari sumber data statistik tahun 2011 terdapat 10.037 kepala keluarga dari enam kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara. Selain itu, banyaknya penduduk di Kecamatan Sinjai Utara sebanyak 44.068 jiwa yang terdiri dari 21.080 orang laki-laki dan sebanyak 22.988 orang kaum muda yang dirincikan dari setiap kelurahan.
Untuk mengetahui lebih jelas atau secara terperinci dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1.3
Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin dirinci Tiap Kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara

NO
KELURAHAN
LAKI-LAKI
KAUM MUDA
JUMLAH
1
Alewanuae
890
983
1873
2
Biringere
4259
4747
9006
3
Lamatti Rilau
1072
1182
2254
4
Bongki
4171
4762
8933
5
Balangnipa
5337
5853
11190
6
Lappa
5351
5461
10812
JUMLAH
21 080
22 988
44 068
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai[32]
b.         Pemerintahan di Kecamatan Sinjai Utara
Kecamatan Sinjai Utara terdiri dari 6 (enam) Kelurahan dengan jumlah lingkungan 27 (dua puluh tujuh), Rukun Warga (RW) sebanyak 66 (enam puluh enam), Rukun Tetangga (RT) berjumlah 187 (seratus delapan puluh tujuh) dan Pamong Desa sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan)
Untuk lebih jelasnya lagi dilampirkan ditabel berikut :
Tabel 1.4
Banyaknya Lingkungan, Dusun, RW, RT dan Pamong Desa Tiap Kelurahan Di Kecamatan Sinjai Utara

NO
KELURAHAN
LINGKUNGAN
DUSUN
RW/RK
RT
PAMONG DESA
1
Alewanuae
4
-
5
12
6
2
Biringere
5
-
15
43
48
3
Lamatti Rilau
3
-
9
25
8
4
Bongki
4
-
8
20
22
5
Balangnipa
5
-
14
42
10
6
Lappa
6
-
15
45
5
JUMLAH
27
-
66
187
99
Sumber : Kecamatan Sinjai Utara

c.         Kehidupan Sosial Budaya di  Kecamatan Sinjai Utara
1.        Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Sinjai Utara sebagian besar bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) karena Kecamatan Sinjai Utara merupakan salah satu pusat pemerintahan bagi Kabupaten Sinjai. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya instansi-instansi pemerintah di Kecamatan Sinjai Utara, dengan banyaknya instansi-instansi pemerintahan maka ini mempengaruhi masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara memilih bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Selain pegawai negeri sipil (PNS), masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara ada yang bekerja sebagai pertanian bahan makanan, perternakan, perikanan, perkebunan, industri, pertambangan/pengalian, listrik/air minum, angkutan/komsumsi, perbankkan/lembaga keuangan, perdagangan, swasta dan lain-lain.
Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1.5
Jumlah Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Sinjai Utara
NO
MATA PENCAHARIAN
JUMLAH
1
Pertanian bahan makanan
1306
2
Perternakan
952
3
Perikanan
1887
4
Perkebunan
653
5
Perdangangan
3109
6
Industri
308
7
Pertambangan/pengalian
75
8
Listrik/air minum
121
9
Angkutan/komsumsi
992
10
Perbankkan/lembaga keuangan lainnya
342
11
Pegawai negeri sipil
3587
12
Swasta
965
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai

13
Lain-lain
3286




2.        Agama
Seluruh penduduk Kecamatan Sinjai Utara beragama Islam. Masyarakat Kecamatan Sinjai Utara memiliki aktivitas keagamaan pada organisasi keagamaan yang berbeda-beda. Hal ini dapat menunjukkan pola pemikiran masyarakat yang berbeda terutama dalam menyikapi masalah-masalah keagamaan. Selain itu, ada dua organisasi massa keagamaan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara yaitu Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Namun ada pula sebagian masyarakat yang tidak menentukan pilihan pada organisasi massa keagamaan tertentu.
Untuk lebih mengetahui keagamaan yang terjadi di Kecamatan Sinjai Utara dapat digambarkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1.6
Jumlah Tempat Ibadah yang Dirinci Tiap Kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara
NO
KELURAHAN
MESJID
MUSHOLAH
1
Alewanuae
5
-
2
Biringere
17
10
3
Lamatti Rilau
5
2
4
Bongki
10
7
5
Balangnipa
9
7
6
Lappa
9
1
JUMLAH
55
27
Sumber :Kecamatan Sinjai Utara

Berdasarkan tabel 1.3 dapat disimpulkan bahwa di Kecamatan Sinjai Utara semua penduduknya beragama islam, selain itu dengan jumlah 55 mesjid dan 27 musholat dapat dikatakan bahwa semua masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara menitik beratkan tentang keagamaan khususnya agama Islam.
3.        Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku politik dalam memberikan hak suaranya, untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih jelas lagi digambarkan ditabel berikut.
Ada pun jumlah sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara yaitu:
Tabel 1.7
Sarana Pendidikan Yang Ada di Kecamatan Sinjai Utara
NO
SARANA PENDIDIKAN
JUMLAH
1
TK
18
2
SD/sedrajat
34
3
SMP/sedrajat
11
4
SMA/sedrajat
10
JUMLAH
73
Sumber :Kecamatan Sinjai Utara
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat perilaku politik seseorang. Dari tabel 1.4 dapat kita simpulkan bahwa sarana pendidikan yang ada khususnya di tingkat TK hingga SMA cukup memadai. Jumlah sarana pendidikan yang ada sebanyak 73 buah dinilai sangat memadai dan mencukupi untuk menampung jumlah penduduk Kecamatan Sinjai Utara yang hampir mencapai 45 ribu jiwa.
Di Kecamatan Sinjai Utara ini juga terdapat 3 (tiga) Perguruan Tinggi yaitu: STAI Muhammadiyah, YPA Hamdayani dan AKBID Madani. Jumlah perguruan tinggi yang ada di Kecamatan Sinjai Utara ini cukup memadai untuk menampung mahasiswa warga Sinjai Utara.
Hal ini membuat calon Bupati dan Wakil Bupati harus lebih cerdas dalam merebut suara di Kecamatan Sinjai Utara, dikeranakan penduduk yang berpendidikan tinggi lebih cenderung menjadi tipe Pemilih Rasional. Untuk itu dalam meraih suara di Kecamatan Sinjai Utara ini, pasangan calon tidak cukup hanya melakukan pendekatan sosiologi tetapi juga harus mengunakan pendekatan rasional dan psikologis.









BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara umum pilihan merupakan salah satu aspek dari perilaku. Perilaku baik secara umum ataupun perilaku pada wilayah yang lebih spesifik seperti perilaku politik, merupakan hasil dari proses interaksi sosial yang cukup kompleks. Interaksi itu melibatkan banyak hal, mulai dari bentuk interaksi, karakter lingkungan dan juga karakter masyarakat. Dalam interaksi sosial, terdapat berbagai stimulus yang akan disambut dan dikelola oleh bangunan kognisi masyarakat yang berbeda-beda. Perilaku politik juga berupa proses yang melibatkan berbagai hal. Stimulus politik atau suatu fenomena akan ditafsirkan berbeda oleh setiap orang, tergantung bangunan kognisinya. Pemahaman akan sesuatu merupakan bentukan proses yang panjang yang melibatkan lingkungan sosial yang memiliki pengaruh yang besar.
36
Pada dasarnya, perilaku politik tidak hanya mencakup adanya bangunan kognisi, stimulus politik dan juga penafsiran. Tapi juga mencakup aspek yang bersifat afeksi berupa emosional dan juga aspek psikologis. Cakupan kesemua hal tersebut dapat dinyatakan sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap objek politik. Informasi sangat penting dalam proses ini, setiap informasi akan dikelola dan kemudian menyambut informasi selanjutnya. Perbedaan akses informasi dan perbedaan sosialisasi dalam suatu masyarakat, menjadikan setiap tindakan atau reaksi menjadi berbeda-beda.
Berdasarkan pada rumusan masalah, dimana untuk mengetahui perilaku politik kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara. Bab ini akan mengulas secara mendalam tentang perilaku politik kaum muda. Cakupannya berkisar pada pilihan-pilihan politik, selain itu terdapat sikap dan tindakan yang juga berupa partisipasi dalam pemilihan bupati tahun 2013. Ada berbagai hasil yang ditemukan pada bagian ini. Kondisinya tidak sama pada setiap kaum muda, sebab setiap kaum muda memiliki konteks dan pemikiran masing-masing. Selain itu, faktor-faktor sosial juga sangat berpengaruh. Adanya akses informasi yang berbeda dan juga proses sosialisasi dilingkungan masing-masing juga menjadi variabel yang sangat berpengaruh terhadap pilihan politik.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Penelitian ini berlangsung lebih kurang tiga bulan yaitu pada tanggal 16 Juli 2013 sampai dengan tanggal 16 September 2013. Adapun  data yang dikumpulkan dari penelitian ini berasal dari hasil wawancara dengan informan, berbagai literatur dan artikel-artikel, surat kabar dan juga tulisan-tulisan yang berhubungan dengan tema yang diteliti dan sangat membantu dalam penelitian ini.
Dalam melakukan penelitian ini sebanyak 23 (dua puluh tiga) orang informan. Dari 23 (dua puluh tiga) informan ini masing-masing dari kalangan profesi yang berbeda, antaranya yakni 6 (enam) orang dari kalangan yang berprofesi sebagai Lurah dan 17 ( tujuh belas) orang kaum muda yang memiliki pengalaman politik atau mengetahui dunia politik dan para tim sukses yang berperan aktif dalam memilihan bupati di Kecamatan Sinjai Utara dan mengetahui tentang dunia perpolitikan kaum muda pada masa sekarang. Masing-masing informan ini kesemuanya berdominsili di Kecamatan Sinjai Utara. Pada topik ini, dihadirkan gambaran tentang perilaku politik kaum muda dan hal-hal yang mendasari pilihan politik tersebut. Terdapat juga faktor sosial yang mempengaruhi pilihan politik menjadi sangat beragam. Faktor-faktor sosial pun menjadi hal yang sangat berpengaruh dan dari hal tersebut dapat diidentifikasi orientasi pemilih dan hal-hal yang mendasari pilihan-pilihan politik kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
Table 1.8
Daftar Nama Informan
No
Nama
Kegiatan dan Profesi
Pend. Terakhir
1
As’ad Mustamin, BA
Kepala Kelurahan Lamatti Rilau
SMU
2
A.Manggalatung Lamatti
Kepala Kelurahan Balang Nipa
SMU
3
Baharuddin
Kepala Kelurahan Lappa
SMU
4
A.Muliati Anwar
Kepala Kelurahan Biringere
Strata 2
5
Hisbullah Mus
Kepala Kelurahan Alehauwae
Strata 1
6
Akbar Andi Mappa
Sekertaris Kelurahan Bongki
Strata 1
7
Rusli
Petani
SMP
8
Irfan
Petani
SMU
9
Awaluddin
Tim sukses
SMU
10
Haris
Petani
SMU
11
Muhammad Taufik
Mahasiswa
SMU
12
Iccang
Nelayan
SMP
13
Risal
Remaja masjid
SMU
14
Zainal
Petani
SMP
15
Aming
Petani
SMP
16
Karim
petani
SD
17
Temmang
Petani
SD
18
Ilham
Mahasiswa
SMU
19
Saini
Pedagang
SMU
20
Aman
Buruh bangunan
SMU
21
Anwar
Petani
SMP
22
Fajar
Mahasiswa
SMU
23
Edi
Buruh bangunan
SMU
Table 1.8 menjelaskan tentang jumlah informan yang dibutuhkan dalam memperoleh data dilapangan, adapun informan yang diwawancarai adalah orang-orang yang mengerti tentang dunia politik dan ikut serta dalam pesta demokrasi yang terjadi di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai utara. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 23 orang informan yang berlatar belakang yang berbeda-beda. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana perilaku politik kaum muda dalam Pemilihan Bupati Tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
A.       Perilaku Politik Kaum Muda dalam Pilbup Tahun 2013
Dalam pemilihan Bupati di Kabupaten Sinjai pada tahun 2013, besarnya jumlah suara yang diperoleh adalah salah satu kunci utama untuk semua kandidat memenangkan pemilihan Bupati yang terjadi di Kabupaten Sinjai. Karena dengan banyaknya suara yang didapatkan dari hasil pemilihan, maka kandidat atau calon yang terdaftar secara resmi di KPU akan menjadi pemimpin (Bupati) di Kabupaten Sinjai. Dimana rakyat memiliki hak penuh untuk memilih siapa pemimpin mereka melalui Pemilihan Umum.
Perilaku politik merupakan produk sosial, ada berbagai macam faktor sosial yang saling berpengaruh dan menimbulkan berbagai reaksi terhadap objek-objek politik. Pada bagian ini akan digambarkan mengenai informasi-informasi yang diperoleh oleh kaum muda tentang proses pemilihan bupati dan proses politik yang ada. Informasi yang diterima akan saling terkait dengan lingkungan sosial dan karakter dan aspek kognisi kaum muda. Selain itu, akan diidentifikasi keikutsertaan dan informasi yang diterima tentang proses tersebut seperti kandidat-kandidat yang maju pada pemilihan Bupati pada tahun 2013.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sejauh mana informasi yang diterima oleh kaum muda pada prose pemilihan bupati tahun 2013, maka diajaukan beberapa pertanyaan sebagai indikator untuk mengetahui hal tersebut untuk mengetahui keikutsertaanya pada pemilihan bupati. Diantaranya adalah; Bagimana pendapat anda tentang pemilihan bupati di kecamatan Sinjai Utara, Bagimana pendapat anda tentang perilaku politik kaum muda dalam pilbup tahun 2013 dan Apa faktor yang paling dominan yang mempengaruhi anda untuk memilih calon dalam pemilihan bupati di Sinjai. Pertanyaan yang lebih mendetail juga diajukan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang informasi dan pengetahuan kaum muda seperti tanggapan terhadap keterlibatan kaum muda pada proses pemilihan bupati dan seberapa penting proses pemilihan umum berpengaruh pada kehidupannya.
Dari hasil wawancara yang dilakukan di kantor Kelurahan dengan informan Kepala Kelurahan Alehanuwae Bapak Hisbullah Mus di kecamatan Sinjai Utara mengaku melibatkan diri atau turut berpartisipasi pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai. Dia mengakui banyak informasi yang dia terima tentang proses politik tersebut. Dalam melihat perilaku politik kaum muda yang terjadi diwilayah pemerintahannya, Bapak Hisbullah Mus mengaku kaum muda memiliki alasan yang kuat dan sangat bijak untuk menjatuhkan pilihannya berdasarkan keinginannya hal ini karena kaum muda sekarang telah teliti walaupun mereka tinggal dipingiran kota, dimana letak wilayahnya adalah Kelurahan tapi keadaan goegrafaisnya masih terlihat seperti sebuah Desa. Bapak Hisbullah Mus mengungkapkan:
“…kaum muda sudah pintar menentukan pilihannya…kaum muda agak bagus untuk menetapkan pilihannya dia paling pintar untuk memilih dan betul-betul tidak terpengaruh dengan orang lainnya…”.[33]

Seorang sekertaris lurah yaitu Bapak Akbar Andi Mappa, berpendapat bahwa perilaku politik kaum muda di wilayahnya yaitu Kelurahan Bongki, telah memperlihatkan banyak kemajuan dan telah melakukan pemikiran-pemikiran yang positif. Waktu ditemui di kantor Kelurahan Bongki Bapak Akbar Andi Mappa mengungkapkan:

“…dikalangan pemuda dalam pemilihan pilkada Sinjai beberapa bulan yang lalu, Alhamdulillah telah mengetahui sedikit masalah politik kaum muda memberikan pemikiran-pemikiran yang positif kepada kita semua dalam rangka pemilihan bupati Sinjai…”.[34]

Selain itu peneliti juga melakukan wawancara di Kelurahan Lamatti Rilau yang merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara. Adapun informan adalah salah seorang Kepala Keluran Lamatti Rilau yaitu Bapak As’ad Mustamin, BA. Dalam wawancaranya yang dilakukan di kantor kelurahan Lamatti Rilau, Bapak As’ad Mustamin, BA mengutarakan bahwa kaum muda di wilayahnya sudah bijak melakukan pemilihan dan dan dapat memahami apa yang di katakan dengan pesta demokrasi dan kaum mudanya telah teliti untuk memilih siapa pemimpin yang cocok untuk memimpin Kabupaten Sinjai. Bapak As’ad Mustamin, BA mengatakan :
“…Perilaku politik untuk kaum mudanya itu tindak lanjutnya atau tingkah lakunya menghadapi masalah pemilu kayaknya sudah bagus semua karena sudah menyadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan masalah politik khususnya Pilkada Bupati, dia sudah tau tentang arah yang dia lakukan dan arah yang dia laksanakan atau arah kedepan lima tahun akan datang, maka dia memilih sesuai dengan apa yang dia harapkan lima tahun kedepan…”.[35]

Pendapat yang sama juga diutarakan oleh kepala Kelurahan Balang Nipa yaitu Bapak A.Manggalatung Lamatti[36] dan Kepala Kelurahan Lappa yaitu Bapak Baharuddin[37], yang mengatakan bahwa kaum mudah sudah mulai cerdas dan pintar dalam menghadapi pemilihan bupati tahun 2013.
Terkait dengan perilaku politik kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara, peneliti juga mewawancarai seorang Kepala Kelurahan Biringere yaitu Ibu A.Muliati Anwar, S.sos, MH, karena Kelurahan Biringere adalah wilayah yang terdapat di Kecamatan Sinjai Utara. Dalam pelaksanaan pemilihan umun Bupati di Kabupaten Sinjai khususnya di Kecamatan Sinjai Utara, kaum muda telah melakukan atau telah memperlihatkan perilaku politik yang sehat tanpa adanya benturan dengan kaum muda yang lainnya, mereka saling bersaing dan tetap menjaga ketertiban dalam pemilihan bupati (Pilbup). Waktu diwawancarai Ibu A.Muliati Anwar, S.sos, MH selaku Kepala Kelurahan Biringere mengatakan:

“…walaupun kaum muda beda pendapat, beda pilihan tapi tetap alhamdulillah, tidak ada bertengkar, dan tidak ada apa ini. Berkat adanya melihat kedepan ini dan sosialisasi kebawa bagaimana menjaga ketertiban, menjaga keutuhan dan menjaga cinta untuk kita semua…”.[38]

Partisipasi yang tinggi juga oleh seorang informan yang memang aktif dalam pemilihan bupati di sinjai khususnya di Kecamatan Sinjai Utara, ia tidak sekadar memilih tapi turut aktif dan mengetahui visi dan misi setiap kandidat. Keikutsertaan kaum muda pada wilayah yang mempengaruhi kebijakan publik dan menganggap bahwa kaum muda harus punya peran ditunjukan oleh seorang informan dari kalangan kaum muda. Akses informasi menjadi hal yang sangat berpengaruh, hal ini ditunjang oleh tingkat pendidikan yang memudahkan terhadap aksese informasi.
Rusli, adalah salah seorang informan, dia seorang yang aktif dalam pemilihan Bupati di Kecamatan Sinjai Utara, dia mengakui bahwa banyak informasi yang dia terima tentang proses politik tersebut. Informasi tersebut dia dapatkan dari keluarga, tim sukses kandidat dan dari sejumlah media massa yang beredar di wilayah Kecamatan Sinjai Utara. Dalam hal perilaku  politiknya Rusli mengatakan memiliki alasan yang sangat kuat untuk menjatuhkan pilihannya berdasarkan pilihannya dan sesuai dengan cara berfikirnya. Rusli mengungkapkan:
“…kaum muda harus cerdas dalam melakukan pilihannya, meskipun banyak yang mempengaruhi untuk memilih kandidat mau itu lewat keluarga saya dan teman-teman saya, tapi saya tetap memilih kandidat dengan hati nurani saya sesuai dengan cara pandang saya. Contohnya melihat visi dan misiserta program yang akan ditawarkan jika terpilih nanti…”[39]

Pilihan rasional Rusli tidak didasarkan pada sesuatu  yang menjadi pilihannya atau sesuatu yang menjadi sumber pilihannya sebagai induvidu atau aktor, yang terpenting adalah kenyataannya bahwa tindakan yang dilakukan untuk mencapai sesuai dengan tindakan pilihan aktor.[40]
Perilaku politik Irfan merupakan hasil dari proses sosialisasi, dengan akses informasi ide dan program yang ditawarkan para kandidat. Dengan pengetahuan yang diperoleh, itu akan menjadi landasan dasar dalam pemberian penilaian terhadap objek-objek politik. Informasi ini bisa saja diterima melalui media massa, keluarga dan lingkungan sosial atau melalui kampanye yang dilakukan oleh kandidat yang bertarung untuk menempati jabatan sebagai Bupati Sinjai Tahun 2013.[41]
Dalam penelitian ini, peneliti menemui informan lainnya mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi dan keterlibatan kaum muda pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai Utara sudah  menunjukkan perbaikan yang memuaskan. Awaluddin, seorang informan yang ditemui dirumahnya mengatakan bahwa perubahan saat ini sudah memperlihatkan potensi yang sangat besar. Awaluddin yang merupakan seorang tim sukses kandidat pemenang Bapak Sabirin Yahya dan wakilnya Andi Fajar, melihat dengan adanya perubahan yang sudah cukup baik pada keterlibatan dan perilaku politik kaum muda pada pemilihan Bupati di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Pada pilihan politik semua kaum muda telah menjatuhkan pilihanya dengan penilaian yang objektif, banyak informasi yang mengenai latar belakang kandidat maupun program yang ditawarkan telah memadai untuk kalangan kaum muda. Hal ini diungkapkan oleh Awaluddin:
“…menurut saya saat ini perkembangan partisipasi dan perilaku politik kaum muda saat ini telah memperlihatkan hal yang sangat memuaskan khusunya di Kecamatan Sinjai Utara. Mereka telah memilih secara objektif dari hasil informasi yang mereka dapatkan, contohnya dari partai politik yang mengusung calon dan dari berbagai siaran radio atau media massa…”.[42]

Ruang lingkup sosial telah memberikan ruang untuk mengelola suatu informasi dan telah memunculkan reaksi terhadap perkembangan politik. Pola partisipasi yang didasari oleh banyaknya informasi yang diterima dan mudah diakses untuk mengetahui informasi tersebut, telah memunculkan reaksi yang berbeda-beda terhadap objek politik. Selain membangun kognisi, aspek afeksi dan aspek avaluatif dapat memiliki peranan dalam tandakan yang dimunculkan sebagai reaksi. Perilaku politik didasarkan pada pengetahuan dan kumpulan informasi. Informasi yang digunakan adalah sebagai bahan evaluasi untuk melihat prosese politik. Seorang informan yang berasal dari kader partai Golkar (golongan karya), saat dijumpai dirumahnya menganggap bahwa proses politik yang ada cenderung tidak sesuai dengan yang semestinya. Proses politik yang dia amati bisa lebih dewasa dan mendidik masyarakat. Informan ini lebih mengutamakan proses sosialisasi sekalipun dia sendiri belum puas dengan sosialisai yang telah dilakukan di Kabupaten Sinjai khususnya Kecamatan Sinjai Utara.
Hal ini yang menimbulkan kekecewaanya terhadap proses yang telah dilakukan, Haris telah menganggap bahwa pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai merupakan proses yang penting demi kebaikan bersama. Karena itu proses pelaksananya harus lebih baik dan sehat, dan tidak seperti sebelumnya. Haris mengatakan:
“…pada pemilihan Bupati di Kecamatan Sinjai Utara apalagi bagian Kota saat ini saya sangat kecewa, seperti yang saya lihat, masih kurang kedewasaan dalm perpolitikan dari semua kandidat, contohnya saat kampanye, para kandidat masih biasa-biasa saja dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan kosong yang tidak dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat menyampaikannya dan tidak di mengerti, mestinya partai politik saat kampanye, para kandidat masih biasa-biasa saja dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan kosong yang tidak dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat menyampaikannya dan tidak di mengerti, mestinya partai politik saat kampanye, para kandidat masih biasa-biasa saja dan masih penuh dengan basa basi dengan slogan-slogan kosong yang tidak dimengerti, visi misinya masih kurang pintar saat menyampaikannya…”.[43]

Selain itu, informasi yang diterima, akan diolah dan dikaitkan dengan refrensi tentang proses politik yang ada, hal ini merupakan bagian dan nantinya memunculkan reaksi. Menurut Haris, dalam proses pengamatan selama pemilihan Bupati dengan mengumpulkan berbagai informasi, dan nantinya terdapat alat yang dapat menilai jalanya proses politik selama ini. Kepedulian adalah suatu realitas meskipun tidak ikut serta dalam pemilihan bupati tahun 2013.
Peneliti juga mewawancara salah seorang kaum muda yang bersataus mahasisawa di STAI Muhammadiyah Sinjai, memaparkan tentang proses Pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai secara keseluruhan yang belum maksimal. Muhammad Taufik adalah seorang mahasiswa yang cukup jeli mengamati proses pemilihan Bupati tahun 2013 apalagi berhubungan dengan kaum muda. Muhammad Taufik mengaku tidak ikut serta memilih, karena pada saat pemilihan Bupati, Kecamatan Sinjai Utara   memasuki iklim ke sawah, dia harus kesawah untuk membantu orang tuanya karena pada saat pemilihan Bupati kampungnya libur, jadi dia memanfaatkan untuk waktu libur untuk ke sawah daripada ikut memilih. Selain itu Muhammad Taufik mengatakan proses politik dengan memilih Calon Bupati belum tentu dapat mengrealisasikan segala keinginanya termasuk masyarakat Kecamatan Sinjai Utara. Muhammad Taufik mengungkapkan:
“…saat saya kuliah banyak sekali kegiatan kampus yang saya harus ikuti dan tidak ada waktu untuk membantu orang tua yang sudah tidak kuat untuk ke sawah, jadi saya mengunakan waktu libur untuk membantu orang tua saya dari pada ikut berpartisipasi dalam pemilihan Bupati tahun 2013, saya sering juga disuruh oleh keluarga untuk memilih dan memilih kandidat yang sama dengan meraka, tapi saya tidak mau dan lebih memilih ke sawah…”.[44]

Muhammad Taufik adalah seorang informan yang mengumpulkan banyak informasi tentang proses Pemilihan Bupati, proses politik biasanya dapat dipahami sebagai upaya untuk menciptakan tatanan yang lebih baik dalam masyarakat, dari hal itu dapat mengkomodasi berbagai kepentingan. Informasi yang diterima akan diolah dengan berbagai pengetahuan tentang realitas politik yang ada. Kedua informan yang ditemui pada dasarnya memiliki kepedulian terhadap jalannya proses demokrasi. Sehingga memunculkan reaksi terhadap realitas yang ada. Reaksi tersebut berupa ketidaksetujuan dengan mekanisme yang dianggap tidak semestinya. Menurut Coleman sebagai individu yang dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud, artinya individu atau aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu.[45] Berdasarkan pengetahuan dan bangunan kognisi serta memadainya informasi yang diterima oleh kaum muda membuat perilaku politik didasarkan pada realitas dan penilaian terhadap proses politik yang diamati.
Peneliti juga menemukan informan kaum muda yang memiliki pengetahuan yang sangat kurang dalam menentukan pilihannya pada Pemilihan Bupati tahun 2013. Peneliti menemukan beberapa orang informan yang tidak mengetahui nama-nama kandidat yang bertarung pada Pemilihan Bupati tahun 2013. Adapun yang hanya diketahui adalah beberapa partai yakni Golkar dan Demokrat saja.
Iccang adalah seorang kaum muda yang pekerjaanya sebagai nelayan dan tinggal di Kelurahan Lappa yang posisinya di pesisir pantai mengakui bahwa tidak tahu nama-nama kandidat yang maju pada Pemilihan Bupati tahun 2013. Saat di wawancarai di rumahnya dia mengaku ikut memilih pada pemilihan Bupati tahun 2013, tapi lupa nomor berapa yang dia pilih, bahkan katanya lagi dia hanya memilih partainya saja dan ia tidak mengatahui siapa nama calon yang ada di kertas suara tersebut. Selain itu katanya Iccang dia memilih kandidat yang diminta oleh tim sukses kandidat dan diminta oleh pak Rtnya, hasil wawancara Iccang:
“…saya itu nelayan, selalu kelaut untuk cari uang, jadi tidak ada waktu untuk mencari tahu tentang sapa calon mau dipilih. Ada orang dating suruh pilih itu, ya di pilh saja soalnya pak RT juga suruh, baru dikasilihat gambarnya yang aku ingat partainya saja…”.[46]


Selain itu juga, tambahan dari seorang kaum muda yang bernama Risal, yang diwawancari dihalaman masjid Kelurahan Biringere mengatakan perilaku politik kaum muda sekarang telah moderen, telah mengetahui banyak tentang politik khususnya pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai. Tambahnya lagi kaum muda telah melakukan pilihannya secara rasional tanpa adanya introfensi dari pihak-pihak luar apalagi para tim sukses kandidat.[47]
Risal adalah salah seorang remaja masjid yang selalu aktif dalam kajian-kajian keagamaan, dengan bermodalkan kajian-kajian yang dia ikuti Risal dapat menganalisis segala proses pemilihan yang terjadi di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Risal juga mengaku telah menjalankan tangungjawabnya sebagai masyarakat Kabupaten Sinjai dengan ikut memilih pada Pemilihan Bupati tahun 2013, karena ia sadar akan pentingnya memberikan suaranya.
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh salah seorang kaum muda yang bernama Zainal yang merupakan warga Kelurahan Balang Nipa, mengatakan kaum muda sekarang telah melakukan pilihannya secara rasiaonal tanpa adanya introvensi dari luar baik itu tim sukses para kandidat.[48]
Dari pernyataan-pernyataan informan yang telah ditemui, dapat diketahui bahwa proses pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara, merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Dengan banyaknya informasi dan pengetahuan tentang pemilihan umum, kaum muda dapat menentukan pilihannya karena dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari teman-teman maupun pergaulan dan sekitar mereka. Dalam penelitian ini juga terdapat beberapa kaum muda yang kuarang mengetahui dunia perpolitikan hal ini terjadi karena kesibukan yang mempengaruhi pemikiranya sehingga agak minimnya informasi yang berhubungan pemilihan Bupati tahun 2013.

B.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pilihan Politik Kaum Muda
Dalam setiap pemilihan umum yang dilaksanakan di Indonesia, setiap warganegara yang terdaftar berhak untuk ikut berpartisipasi dan menjatuhkan pilihan-pilihan berdasarkan keinginan dan penilainya. Keikutsertaan kaum muda yang merupakan kelompok besar secar kategori, hal ini dapat diukur pada proses pemilihan Bupati tahun 2013 di Kabupaten Sinjai khusunya Kecamatan Sinjai Utara. Tingkat partisipasi kaum muda dapat dibandingkan dengan jumlah kuantitas, yang dapa dasrnya akan merasakan hasil dari pesta demokrasi ini.
Pada pemilihan Bupati tahun 2013, pilihan-pilihan politik kaum muda tidak hadir begitu saja atau muncul dengan sendirinya, akan tetapi dipengaruhi oleh berbagai hal. Kaum muda dan politik merupakan suatu fenomena yang sangat menarik atau khas, karena didalamnya mencakup segala pola perilaku politik kaum muda dengan berbagai faktor sosial yang mempengaruhinya.
Pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara, merupakan suatu rangkaian proses demokrasi yang telah menyajikan berbagai macam rangkaian peristiwa, setiap induvidu akan menyambut hal tersebut secara berbeda-beda sesuai dengan informasi yang didapatkan. Dalam proses pemilihan Bupati ada banyak ragam informasi yang telah disediakan, baik dari pihak pelaksana pemilihan Bupati terkait dengan tata cara memilih dengan baik dan benar, selain itu peserta pemilihan Bupati juga (kandidat) turut bekerja terutama tantang apa yang akan merka lakukan sebagai bentuk kontribusi positif mereka jika ingin dipilih oleh para pemilih.
Ada berbagi hal yang terlibat dalam proses munculnya perilaku poltik kaum muda. Proses menjatuhkan pilihan dan pemahaman serta tanggapan terhadap berbagai fenomena politik didasari oleh berbagi hal dan faktor sosial. Hal ini akan memunculkan dimensi kognisi dan juga dimensi afeksi berupa hal-hal yang bersifat emosional. Selain hal itu, terdapat dimensi evaluatif yang menjadi prefensi dalam bersikap selanjutnya.
Dari pernyataan diatas maka dari itu, untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari atau mempengaruhi perilaku politik kaum muda dan hal-hal yang mendasari pilihan-pilihan politiknya, maka diajukan pertanyaan-pertanyaan inti untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas atau lebih detail dari informan yang diwawancarai. Pertanyaan yang diajukan adalah partisipasi mereka dalam pemilihan Bupati tahun 2013 lalu. Pertanyaan keduanya adalah hal-hal yang mendasari ketika menjatuhkan pilihan politiknya pada saat pemilihan Bupati tahun 2013. Disamping kedua pertanyaan utama tersebut, diajukan beberapa pertanyaan untuk mengontrol dan mengarahkan jawaban informan yang lebih valid. Dari hasil wawancara yang dilakukan maka dapat ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan politik kaum muda pada pemilihan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai antarnya adalah:


1.         Proses Sosialisasi Politik
Sosialisasi politik adalah proses yang dapat mempengaruhi seorang induvidu untuk bisa mengendali sistem politik, yang kemudian menentukan persepsi serta reaksiya terhadap gejala-gejala politik.[49]
Proses sosialisasi merupakan suatu proses transmisi nilai dalam suatu masyarakat tertentu dari generasi generasi yang berlangsung sepanjang waktu. Dalam proses sosialisasi, masyarakat akan memeperoleh banyak informasi, ide dan nilai-nilai yang akan menjadi pengetahuan bagi setiap masyarakat. Pengetahuan yang diperolah akan menjadi dasar dalam memberikan penilaian terhadap objek-objek politik. Informasi ini diterima oleh individu melalui media, keluarga dan lingkungan sosial dan menjadi dasr pengetahuan yang digunakan bagi masyarakat atau individu untuk menjatuhkan pilihan politiknya.
Proses transmisi nilai-nilai yang diterima setiap individu berasal dari keluarga, lingkungan pergaulan sehari-hari dan media massa. Nilai-nilai yang diterima oleh setiap individu inilah yang akan membentuk persepsi seseornag terhadap fenomena politik. Prosese sosialisasi juga membentuk predisposisi seseorang dalam menilai sesuatu.
Penelitian yang dilakukan di Kecamatan Sinjai Utara ini, menunjukkan bahwa lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi seseornag dalam membentuk pengetahuan-pengetahuan tertentu. Lingkungan sosial seperti keluarga, teman sepermainan, sekolah dan pekerjaan serta media massa berperan sangat besar dalam membentuk struktur pengetahuan dan prefensi seseorang untuk menjatuhkan pilihan politiknya dalam pemilihan Bupati tahun 2013.
Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan tentang sumber memperoleh pengetahuan tentang masalah politik dan bagaimana pengaruh pengetahuan tersebut terhadap pilihan politiknya. Dalam menjawab pertanyaan ini, sebagian besar informan mengatakan bahwa pengetahuan yang mereka miliki mereka tentang politik mereka dapatkan dari lingkungan pergaulan seperti keluarga, teman, sekolah, pekerjaan, dan orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Disamping itu informan juga mengatakan memperoleh informasi dan pengetahuan tentang politik dari membaca koran, majalah, mendengarkan radio dan menonton televisi.
Ketika informan ditanya tentang pengaruh pengetahuan mengenai masalah-masalah politik dengan pilihan-pilihan politiknya, informan menjawab bahwa mereka kurang mendapatkan pengetahuan tentang tata cara memilih dan terutama tentang profil kandidat dan partainya. Terutama partai-partai yang tidak populer, meskipun ada peran media massa seperti televisi, akan tetapi kecenderungan kaum muda kurang memiliki perhatian pada masalah-masalah politik, kecuali kaum muda pada kalangan-kalangan tertentu yang memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi dan memilki aktivitas di wilayah publik. Arahan akan pilihan-pilihan politik akan cenderung lebih banyak mereka dapatkan dari keluarga, kelompok bergosip (teman sepergaulan) dan bahkan dari elit-elit kampung (kepala Desa, Dusun, RT/RW) yang secara tidak langsung memberikan informasinya pada seorang kandidat tertentu.
Domestifikasi sosial atas peran-peran kaum muda yang cenderung berkembang di kalangan pemuda kampung, justru cenderung membuat kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara malah rentan menjadi komodifikasi keluarga dalam transaksi politik Uang, yang dilakukan oleh anggota keluarga seperti orang tua kaum muda itu.
Hal ini terlihat jelas bahwa lingkungan pergaulan, keluarga dan media memberi kontribusi yang cukup besar dalam membentuk pengetahuan seseorang terhadap informasi politik. Pada gilirannya, pengetahuan inilah yang digunakan untuk menjatuhkan pilihan politiknya. Jadi disini terlihat jelas peran lingkungan dan akses informasi dalam mempengaruhi pilihan politik seseorang khususnya para kaum muda.
Salah seorang informan yang bernama Aming yang berasal dari Kelurahan Bongki Kecamatan Sinjai Utara, ia mengatakan bahwa informasi tentang pemilihan Bupati tahun 2013 dan nama-nama kandidat yang ikut bertarung merebut jabatan sebagai Bupati, dia dapatkan dari keluarganya.[50]
Kondisi yang dialami oleh Aming di atas menggambarkan bahwa keluarga sangat berperan. Dalam proses sosialisasi yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, hal itu merupakan transimisi nilai-nilai yang dianut atau dimiliki dalam lingkungan keluarga. Dimana nilai-nilai tersebut diajarkan kepada anggota keluarga yang lain sehingga akan mempengaruhi struktur pengetahuan dalam memandang fenomena politik.
Hal ini juga hampir senada dengan Temmang dan Karim, salah seorang informan yang ditemui di pos ronda Kelurahan Alehanuwae, waktu ditemui mengaku mereka mendapatka banyak informasi tentang kandidat dari lingkungan pergaulannya.[51] Selain itu, seorang informan yang bernama Ilham yaitu seorang mahasiswa, mengatakan telah banyak berdiskusi dengan teman-teman mahasiswanya serta orang-orang yang memiliki banyak informasi tentang proses pemilihan umum dan para kandidat yang menjadi peserta dalam pemilhan Bupati tahun 2013 di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Selain informasi dari teman-teman lingkungannya, Ilham juga telah mengakses informasi dari berbagai media massa tentang kandidat yang menjadi peserta pada pemilihan Bupati dan dia juga membaca buku-buku yang berhubungan dengan politik. Ilham mengatakan:
“…semasa di Kampus, saya sering berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa, kadang juga dengan dosen, selain itu juga jika berada di luar Kampus saya bicara masalah politik dengan orang-orang yang sering bersentuhan dengan politik, saya juga mencari informasi lain dengan membaca Koran dan mendengarkan Radio, biasa juga baca buku…”[52]

Data yang diperoleh selama penelitian juga menunjukan relasi yang kuat antara lingkungan pergaulan seperti lingkungan tempat tinggal, lingkungan pendidikan dan lingkungan pekerjaan dalam mempengaruhi pengetahuan seseorang terhadap fenomena politik. Kebanyakan informan dalam penelitian ini mengaku memperoleh pengetahuan tentang politik dari lingkungan keluarga dan pergaulan mereka. Pengetahuan-pengetahuan tersebut kebanyakan berupa pengetahuan tersebut terutama tentang para kandidat. Kebanyakan informasi tentang kandidiat banyak didapatkan justru dari mulut ke mulut dari sesama pergaulan di lingkungan masing-masing ketika mereka membicarakan tentang pilihan-pilihan politik mereka sendiri ataupun pilihan orang tuanya.
Kurangnya informasi tentang kandidat dari media massa, tentunya terkait dengan kemampuan para kandidat untuk mengakses media massa, sehingga untuk konteks komunitas/basis massa mereka akan lebih cenderung menggunakan instrumen-instrumen politik yang lebih menyentuh komunitas terutama melalui instrumen struktural kampung (kepala Desa, Kepala Dusun, RT/RW) ataupun hubungan-hubungan kekeluargaan yang diharapkan akan mampu memberikan dampak yang luas bagi keterpilihannya.
Ini menunjukkan bahwa korelasi lingkungan sosial dengan pilihan politik sangat erat, lingkungan pergaulan dalam hal ini berupa lingkungan tempat tinggal dan keluarga serta lingkungan pendidikan sangat berpengaruh dalam penyediaan informasi dan membentuk pengetahuan-pengetahuan terhadap pilihan-pilihan politik. Pada sisi yang lain media massa juga menyediakan informasi cukup berperan akan tetapi kurang memberikan pengaruh. Proses sosialisasi yang berlangsung dalam lingkungan sosial membawa dampak pada terbentuknya persepsi seseorang terhadap objek-objek politik yang pada akhirnya berpengaruh pada pilihan politik. Terdapat hal yang sangat penting dalam proses sosialisasi ini, proses sosialisasi pada dasarnya menyediakan berbagai informasi untuk orang-orang yang berada dalam suatu komunitas.
Tersedianya berbagai informasi dapat memudahkan seseorang untuk membentuk pengetahuan-pengetahuan tentang objek politik. Informasi-informasi yang diterima tentang pemilihan bupati dan pasangan kandidat akan memudahkan seseorang untuk melakukan penilaian yang akan berujung pada pilihan-pilihan politik. Akses informasi yang baik, akan membentuk pengetahuan yang berkesinambungan pula.
Dalam penelitian ini diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang seberapa penting informasi tentang politik serta proses pemilihan bupati dan bagaimana upaya mendapatkan infomasi tersebut. Sebagian besar informan menjawab bahwa informasi tentang Pemilihan Bupati dan para kandidat kurang memadai sebab informasi tentang hal tersebut tidak terlalu penting dan menganggap informasi tersebut tidak terlalu berhubungan dengan dirinya dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada kemungkinan perubahan kehidupan pribadinya maupun keluarganya.
Akses terhadap informasi adalah suatu proses yang berbeda-beda pada setiap kaum muda yang menjadi informan dalam penelitian ini. Faktor lingkungan sosial juga menjadi hal yang sangat penting dalam menyediakan berbagai informasi. Terdapat lingkungan yang memudahkan kaum muda dalam mendapatkan informasi dan terdapat pula lingkungan yang membuat informan cukup sulit memperolehnya. Hal ini pun berkaitan dengan seberapa penting informasi bagi dirinya. Lingkungan sosial yang menganggap bahwa informasi tentang pemilihan bupati adalah sesuatu yang penting dan informasi tersebut adalah kebutuhan, maka informan yang berada dalam lingkungan ini akan berupaya untuk mengakses setiap perkembangan tentang pemilhan Bupati.
2.         Kelompok Sosial
Secara sosiologis, masyarakat terbagi dalam beberapa kelompok-kelompok sosial yang dapat dikategorikan. Pengelompokan soasial ini sangat berpengaruh terhadap pilihan-pilihan politik masyarakat.[53] Proses sosialisasi yang berlangsung panjang membuat pemilih kaum muda mengidentifikasikan dirinya berdasarkan kelompok sosialnya. Dalam kelompok-kelompok sosial seperti kelompok kategorial laki-laki dan kaum muda, kelompok berdasarkan pekerjaan, status sosio ekonomi, kelompok etnis yang meliputi ras, agama dan daerah asal, setiap individu akan mengalami proses sosialisasi berdasarkan kelompok sosialnya.
Salah seorang informan yang bernama Saini mengatakan, pilihan politik kaum muda sekarang lebih cenderung mengikut dengan teman-teman bergaulnya, karena mereka selalu bersama-sama dan sering mengikuti sosialisasi politik dengan sama-sama.[54]
Dari pernyataan diatas menunjukkan bahwa pergaulan diasusmsikan sebagai kelompok sosial dalam mendapatkan informasi dan gagasan-gagasan. Seperti yang diungkapkan oleh Saini, bahwa kaum muda akan mengikut dengan pilihan politik orang terdekat yang berada disekitarnya.
Selain itu juga, seorang informan laki-laki yang bernama Aman salah seorang warga di Kelurahan Lappa, mengakui ikut berpartisipasi dalam pemilihan bupati tahun 2013. Waktu diwawancarai Aman mengatakan perilaku politik kaum muda juga sebagian mengikuti kepada orang terdekatnya, contohnya orang tua atau keluarga terdekat.[55]
Pendapat diatas menunjukan, keluarga diasumsikan sebagai kelompok sosial terkecil tapi intens dalam hal interaksi dan proses penerimaan informasi dan gagasan-gagasan. Seperti yang diungkapkan sebelumnya oleh Aman, bahwa kaum muda biasanya mengikut dengan pilihan politik orang-orang dekat yang berada di sekitarnya. Dalam kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai yang terpahami oleh anggota kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari pemahaman memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota kelompok lainnya. Hal ini juga melibatkan proses-proses dan peristiwa historis yang bertautan dengan nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut.
Dalam kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai yang terpahami oleh anggota kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari pemahaman memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota kelompok lainnya. Hal ini juga melibatkan proses-proses dan peristiwa historis yang bertautan dengan nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut. Pada dasarnya, proses sosialisasi dalam kelompok-kelompok sosial melibatkan proses transmisi nilai-nilai yang terpahami oleh kelompok tersebut terhadap anggotanya.
Jadi pilihan politik kaum muda biasanya akan sangat terpengaruh dengan proses sosialisasi dan perolehan pengetahuan dari kelompoknya, dan itu sangat berkaitan dengan dimensi psikologis pemilih kaum muda.
3.         Kesadaran Politik Kaum Muda
Kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara sudah banyak mempengaruhi keinginan bahwa mereka harus mensukseskan pemilihan Bupati tahun 2013 yang diselanggarakan untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Kenyataan ini menyebabkan kaum muda ikut serta dalam pemilihan Bupati tahun 2013. Kesadaran ini karena adanya kebajiban inilah yang membuat mereka ikut serta dalam pemilihan bupati di Kabupaten Sinjai khususnya di Kecamatan Sinjai Utara.
Seorang kaum muda yang bernama Anwar[56], mengatakan bahwa kebanyakan kaum muda sekarang telah sadar akan pentingnya ikut memilih dalam pemilihan bupati tahun 2013, khususnya pemuda di Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai. Anwar adalah salah satu pemuda yang tinggal di Kelurahan Bongki yang berada di Kecamatan Sinjai Utara.
Dengan keikutsertaan kaum muda dalam pemilihan bupati, akan membuat mereka lebih banyak mengetahui masalah politik dan memingkatkan pemikiran mereka apa lagi yang berhubungan dengan maslah politik dan akan mempengaruhi perilaku politik mereka khususnya kaum muda.
4.         Kepentingan
Dalam menjatuhkan pilihan politik, faktor kepentingan merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh. Umumnya informan mengungkapkan bahwa hal yang mempengaruhi pilihan politiknya adalah faktor kepentingan. Ini menjadi sangat beralasan sebab pemilih kaum muda akan lebih memilih sesuatu yang paling dekat dengan apa yang dibutuhkan dan realistis dalam menjatuhkan pilihan politiknya.
Salah seorang informan yang bernama Fajar yang juga seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu Universitas di Makassar dan merupakan warga Kelurahan Bongki mengatakan, kaum muda sekarang memilih karena adanya kepentingan yang hendak dicapai.[57]
Pendapat diatas bagi peneliti wajar-wajar saja karena setiap orang yang memilih pasti ada kepentingan yang ingin raih baik itu bersifat positif maupun negetif. Karena ini lah yang mendorong kaum muda maupun masyarakat di Kecamatan Sinjai Utara untuk turut berpartisipasi dalam pemilihan Bupati tahun 2013.
Seorang informan kaum muda yang berlatar belakang sebagai pekerja bangunan dan merupaka warga Kelurahan Biringere, yaitu Edi waktu diwawancarai mengungkapkan bahwa pilihannya terhadap salah seorang kandidat karena didasarkan oleh janjinya untuk memperbaiki sarana dan prasarana di Kecamatan Sinjai Utara.[58]
Pendapat diatas menjelaskan tentang kepentingan seseorang untuk memilih kandidat karena didasari dengan janji yang telah diberikan kepada kaum muda yang ingin memilih dan kaum mudanya juga pasti memiliki kepentingan yang tersembunyi dengan tereaslisasinya atau dengan menangnya kandidat yang mereka dukung dan bisa mengkabulkan kenginananya.



BAB IV
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Perilaku politik kaum muda merupakan salah satu produk sosial yang tidak hadir dengan sendirinya. Terdapat banyak faktor-faktor sosial yang mempengaruhi  perilaku dan pilihan politik kaum muda.
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab III maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.         Kaum muda menjatuhkan pilihan politiknya berdasarkan informasi yang dia terima, dimana pilihan politik ini juga ternyata berkorelasi dengan kondisi lingkungan dimana kaum muda itu tinggal. Hal ini membuat pilihan politik tiap kaum muda berbeda-beda. Terdapat kaum muda yang menggunakan hak pilihnya berdasarkan informasi dan pengetahuan yang diperoleh tentang profil kandidat serta visi dan misinya, akan tetapi juga terdapat kaum muda yang menggunakan hak pilihnya meski dengan pengetahuan yang sangat minim tentang profil kandidat juga visi dan misinya.
2.        
62
Terdapat pula pemilih kaum muda yang memiliki pengetahuan dan informasi tentang proses Pemilihan bupati, tetapi dari berbagai informasi yang diterima pemilih kaum muda tersebut tidak menggunakan hak pilihnya, hal ini karena adanya anggapan bahwa proses politik yang ada tidak mampu meyakinkannya bahwa akan ada perubahan yang lebih baik. Perilaku politik terbentuk melalui sosialisasi dan berbagai informasi yang diterima dan dikelola dalam lingkungan sosial pemilih kaum muda. Informasi-informasi yang ada akan membentuk bangunan Kognitif pemilih kaum muda dan yang nantinya akan mendorongnya untuk memberikan informasi pada pilihan politiknya.
Selain itu, kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara sangat kritis dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Walaupun ada sebahagian kaum muda yang tidak bersungguh-sungguh dalam pemilihan Bupati tahun 2013. Kaum muda juga sekarang sangat sportiv dalam Pemilihan Bupati tahun 2013, walaupun pilihannya ternyata kalah dalam dalam pemilihan, akan tetapi mayoritas dari kaum muda akan tetap menerima hasil pemilihan Bupati tahun 2013 tanpa adanya benturan-benturan karena kelahnya kandidat yang mereka dukung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara antaranya adalah:
1.         Faktor sosialisasi politik
Sosialisasi politik adalah suatu proses untuk mengendalikan atau untuk mempengaruhi pilihan politik seseorang dan menetukan persepsi serta reaksi terhadap gejala-gejala politik. Dalam pemilihan bupati tahun 2013 Kecamatan Sinjai Utara manyoritas kaum muda mendapatkan banyak pengetahuan informasi tentang kandidat yang maju dalam pemilihan Bupati tahun 2013 melalui media massa, teman pergaulan, dan bahkan dari elit-elit Kelurahan yan secara tidak langsung memberikan informasi tentang kandidat tertentu. Dengan informasi yang meraka dapatkan kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara.
2.        Kelompok Sosial
Kaum muda biasanya mengikut dengan pilihan politik orang-orang dekat yang berada di sekitarnya. Dalam kelompok sosial, melibatkan nilai-nilai yang terpahami oleh anggota kelompoknya. Sikap dan perilaku sebagai aksi dari pemahaman memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda dengan anggota kelompok lainnya. Hal ini juga melibatkan proses-proses dan peristiwa historis yang bertautan dengan nilai-nilai dalam kelompok sosial tersebut. Pada dasarnya, proses sosialisasi dalam kelompok-kelompok sosial melibatkan proses transmisi nilai-nilai yang terpahami oleh kelompok tersebut terhadap anggotanya. Jadi pilihan politik kaum muda biasanya akan sangat terpengaruh dengan proses sosialisasi dan perolehan pengetahuan dari kelompoknya, dan itu sangat berkaitan dengan dimensi psikologis pemilih kaum muda.
3.        Kesadaran Politik Kaum Muda
Kaum muda di Kecamatan Sinjai Utara telah mulai banyak telah mengetahui banyak mengenai politik khususnya dalam pesta demokrasi, kaum muda sekarang telah cerdas dan pintar dalam melakukan hak pilihnya dan mengetahui begitu pentingnya ikutserta dalam pemilihan Bupati tahun 2013. Hal ini akan membawa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai dapat mensukseskan pemilihan Bupati Tahun 2013.


B.       Saran
Pemilihan Bupati tahun 2013 adalah pemilihan Umum demokratis yang dilakukan bangsa ini. Harus diakui masih banyak kekurangan. Pemilu masih dipandang secara pesimistis oleh banyak kalangan karena dianggap belum mampu memberikan perubahan apa-apa terutama dalam peningkatan taraf hidup/kesejahteraan masyarakat. Pemilu Legislatif, meski telah berlangsung dengan suara terbanyak dalam menentukan siapa-siapa kandidat yang akan menduduki jabatan sebagai Bupati, namun prosesnya masih sangat konvensional. Pemilih kita masih banyak terjebak pada habituasi pilihan-pilihan lamanya terutama bagi pemilih kaum muda apalagi pemilih kaum muda yag berdomisili di daerah/wilayah pinggiran.
Dalam melakukan penelitian ini terdapat berbagai saran yang akan disampaikan oleh peneliti antaranya adalah:
1.         Peningkatan akses informasi dan perluasan informasi mengenai proses Pemilu Bupati Tahun 2013 secara sistematis perlu dilakukan untuk mampu menjangkau pemilih-pemilih kaum muda yang berada di daerah pinggiran dan dari berbagai kalangan dan lapisan sosial. Baik sosialisasi melalui media cetak, audio atau audio visual, semina-seminar politik serta penyuluhan politik.
2.         Mengingat pemilih kaum muda berasal dari kondisi sosial yang berbeda-beda, dengan tingkat pendidikan yang tidak sama dan hal ini sangat berkorelasi dengan akses informasi terhadap proses politik, maka seyogyanya pemerintah maupun pihak-pihak seperti LSM dapat memberikan bentuk pendidikan politik yang bersifat menyeluruh dan persuasif, sehingga pemilih kaum muda dapat mengetahui proses politik dengan lebih jelas.
3.         Pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung kegiatan pemilihan dalam dunia politik, serta pemberian pendidikan politik yang ditujukan khusus untuk kaum muda untuk berpartisipasi dalam dunia perpolitikan.

















DAFTAR PUSTAKA

 Asfar, M. Pemilu dan Perilaku Memilih 1955-2004. Surabaya: Pustaka Utama. 2004.
Aminah, Sitti. Skripsi, Pengaruh Pelaksanaan Pendidikan Islam Terhadap Pembangunan Karater Anak di SD. Inpres Bertingkat Layang Kecamatan Bontoala Kota Makassa.,Unismuh, 2011.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai Utara Dalam Angka 2012. Kabupaten Sinjai, 2012.
Budiarjo, Mariam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana, 2009.
Cangara, Hafied. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2011.
Gatara, A.A. Sahid. Ilmu Politik Memahami dan Menerapkan. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Gaus, Gerald F dan Chandran  Kukathas. Handbook Teori Politik. Bandung: Nusa Media, 2012.
Jurdi, Syarifuddin. Panduan Penulisan Skripsi Jurusan Ilmu Politik Uin Alauddin. Makassar: UIN Alauddin, 2012.
Maran, Rafael Raga. Penghantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rineka Cipta,  2001.
Marsuki, Muhammad Sholeh, Skripsi. Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin dalam Perspektif Khittah Muhammadiyah.Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogjakarta, 2009.

Mufti, Muslim. Teori-Teori Politik. Bandung: Pustaka Setia,  2012.

Nasution, Fera Hariani, Skripsi. Perilaku Pemilih  Pada Pemilihan Gabernur Sumatera Utara Secara Langsung di Kabupaten Labuhan Batu Studi Kasus: di Kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhan Batu,Universitas Sumatra Utara. Medan, 2009.

Nursal, Adman. Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2004.

Ramlan, Surbakti. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo, 1999.
Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadikma Ganda. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.

Ritzer, George dan Douglas J.Goodman. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media, 2003.

Soekanto, Soerjono. Penghantar Penelitian Sosial. Jakarta: UI Press, 1986.

Varma, SP. Teori Politik Modern. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010.

Verawati R. L, Cice, Skripsi. Perilaku Pemilih Kaum muda Pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara. Universitas Hasanuddin Makassar, 2011.


http://www.sinjaikab.go.id/v1/statis-7-geografis.html. Diakses pada tanggal 3 Juli 2013, pukul 20.22.





[1] Hafied Cangara, Komunikasi politik: Konsep, Teori, dan Strategi (Cet.ke-3; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), hal. 165.

[2]Ibid., hal. 210.
[3] Syarifuddin Jurdi, Panduan Penulisan Skripsi Jurusan Ilmu Politik Uin Alauddin (Makassar: UIN Alauddin, 2012), hal. 11-12.
[4] Fera Hariani Nasution, Perilaku Pemilih  Pada Pemilihan Gabernur Sumatera Utara Secara Langsung di Kabupaten Labuhan Batu (Studi Kasus: di Kelurahan Bakaran Batu, Kabupaten Labuhan Batu), Skripsi Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009.
[5] Muhammad Sholeh Marsuki, Perilaku Politik Praktis Din Syamsuddin dalam Perspektif Khittah Muhammadiyah, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogjakarta, 2009.
[6] Cice Verawati R. L, Perilaku Pemilih Perempuan Pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 Di Kabupaten Kolaka Utara, Skripsi, Universitas Hasanuddin Makassar, 2011.
[7] Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Sosial (Jakarta: LP3ES, 1998), hal. 37.
[8] Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama: 2008), hal. 10.
[9] Surbakti Ramlan, ibid., hal. 130.
[10] Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1991, hal. 8.
[11] Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik ( Jakarta: Grasindo, 1999), hal. 131.
[12] Ibid., hal. 16.
[13] Ibid., hal. 106.
[14] M  Asfar, Pemilu dan Perilaku Memilih 1955-2004 (Surabaya: Pustaka Utama, 2004), hal. 137.
[15] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 356.
[16] Ibid., hal. 357.
[17] Ibid., hal. 357.
[18] Ibid., hal. 394.
[19] Ibid., hal. 358.
[20] Syarifuddin Jurdi, Ibid., hal. 12.
[21] Ibid., hal. 12.
[22] Soerjono Soekanto,  Pengantar Penelitian Sosial  (Jakarta: UI Press, 1986),  hal. 43.
[23]Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif  (Jakarta: Kencana, 2009),  hal. 108.
[24] Ibid., hal. 117.
[25] Ibid., hal. 121.
[26] Ibid., hal. 124.
[28] http://www.sinjaikab.go.id/v1/statis-7-geografis.html, Diakses pada tanggal 3 Juli 2013, pukul 20.22.
[29] Ibid.
[30] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai,  Kecamatan Sinjai Utara Dalam Angka 2012, Kabupaten Sinjai,  2012, hal. 1.
[31] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai,  Kecamatan Sinjai Utara Dalam Angka 2012, Kabupaten Sinjai, 2012, hal. 2.
[32] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai, Kecamatan Sinjai Utara Dalam Angka 2012, Kabupaten Sinjai, 2012, hal. 3.

[33] Hisbullah Mus, Kepala Kelurahan Alehauwae , Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 26 Agustus 2013.
[34] Akbar Andi Mappa, Sekertaris Kelurahan Bongki, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 28 Agustus 2013.
[35]As’ad Mustamin, BA, Kepala Kelurahan Lamatti Rilau, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 27 Agustus 2013.
[36] A.Manggalatung Lamatti, Kepala Kelurahan Balang Nipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, 28 Agustus 2013.
[37] Baharuddin, Kepala Kelurahan Lappa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, 28 Agustus 2013.
[38]A.Muliati Anwar, Kepala Kelurahan Biringere, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 27 Agustus 2013.
[39]Rusli, Warga Kelurahan Alehauwae,Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 29 Agustus 2013.

[40] Ibid., George Ritzer & Douglas J. Goodman, hal. 357.
[41]Irfan, Warga  Kelurahan  Alehauwae, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 29 Agustus 2013.
[42]Awaluddin, Warga Kelurahan Alewahuwae, Wawancara di Kecamatan Sin jai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[43]Haris, Warga Kelurahan Balang Bipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[44]Muhammad Taufik, Warga Kelurahan Lamatti Rilau, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[45] Ibid., George Ritzer & Douglas J. Goodman, hal. 357.
[46]Iccang, Warga Kelurahan Lappa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[47]Risal, Warga Kelurahan Biringere, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 29 Agustus 2013.
[48] Zainal, Warga Kelurahan Balang Nipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[49] Mufti Muslim, Teori-teori Politik (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2012), hal. 83.
[50]Aming, Warga Kelurahan Bongki,Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[51]Karim dan Temmang, Warga Kelurahan Alehauwae, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[52]Ilham, Mahasiswa STAI Muhammadiyah Sinjai, salah seorang pemuda berasal dari Kelurahan Balang Nipa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[53] Nursal, Adman, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2004), hal. 55.
[54]Saini, Warga Kelurahan Lappa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[55] Aman, Warga Kelurahan Lappa, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[56]Anwar, Warga Kelurahan Bongki,Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, Tanggal 31 Agustus 2013.
[57] Fajar, Warga Kelurahan Bongki, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 30 Agustus 2013.
[58] Edi, Warga Kelurahan Biringere, Wawancara di Kecamatan Sinjai Utara, tanggal 31 Agustus 2013.